Minggu, 21 Oktober 2012

tanpa tujuan

demi apapun, atas nama apapun ini akan menjadi sebuah tulisan tanpa tujuan. tanpa aliran. tanpa pelabuhan. ha! bagaimana mungkin dalam kesadaran kurang dari 40%, orang gila macam saya ini dapat menulis? bah! lalu untuk apa ini semua? hanya sekedar melatih jari jari tangan saya sepertinya. hanya sekedar melatih fokus mata saya mungkin. ah entahlah~ yang saya tahu, dari segala yang diwajibkan, menulis ialah sebuah keharusan bagi saya. meski dengan bahasan tidak karuan seperti ini. meski saya tahu ini tidak akan ada yang baca, kecuali saya sendiri. ya, menjadi pembaca tulisan sendiri itu menakjubkan, tapi sekaligus menyedihkan. betapa malangnya nasib orang aneh yang satu ini, berkeinginan menjadi penulis tanpa pernah punya sosok pembaca. bahkan satu orang pun tidak! bah! atas nama penulis tanpa pembaca, maka aku mengecam kalian yang mengaku "pembaca" tanpa pernah membaca tulisan saya macam ini. ha!ha! *baiklah, ini hanya sedikit umpatan dari hati kerdil saya*. sebenarnya alasan saya menulis dengan sebegininya ialah saya perlu berlatih. itu saja. saya butuh berlatih. sangat sangat butuh berlatih. maka saya menulis, menulis apapun. bahkan menulis tanpa tujuan seperti ini. yak! Hakuna Matata! :)

Sabtu, 13 Oktober 2012

keentahan yang entah.

ada yang mesti kutulis, kata yang entah, cerita yang entah pula. bah! lalu apa yang ingin aku tulis? entah. yang kini kutulis ialah keentahan yang tak berujung. keentahan yang memiliki kadar yang entah. apa kau mengerti apa yang kutulis? aku rasa kau akan jawab entah. ah, entahlah~ aku hanya bisa menebak. berasumsi dengan kemungkinan kemungkinan yang ada dan yang akan ada. lalu ini intinya apa yang akan kutulis? lagi lagi entah. silahkan kau terka kemana tulisan ini bertuju. atau mungkin kau akan menemukan kembali keentahan yang entah? ah entahlah~ lagi lagi aku hanya bisa berasumsi. mencoba berlogika di atas logika. bah! dari mana aku dapat kata kata itu? dari yang kubaca tentunya, bahkan logika saja aku tak tahu dimana dan bagaimana letaknya. seolah mesti mengeluarkan lagi kata: entah. maka akan kunikmati keentahan ini selagi masih ada, selagi aku masih arif menggunakan kata entah. karena aku takut kalau kalau aku telah menemukan jawaban dari semua yang entah ini, maka tak ada lagi pengakuan dariku tentang ketidaktahuan: keentahan itu. karena mungkin aku akan merasa menjadi spesies gila yang tahu segalanya. bah! aku mulai mengkhayal, ngawur. kampret! sudahlah, lebih baik aku akhiri saja sampai di sini. biar entah tetap menemaniku. di sini. tempat yang entah. di keadaan yang entah pula. bah! hidup entah! horas!