Jumat, 31 Mei 2013

proses memanusiakan manusia.

"pada hakikatnya, pendidikan adalah proses memanusiakan manusia."

damn! kalimatnya asik dan nggak asik menjadi satu. kita tinjau asiknya dulu..
asiknya, aku percaya kalimat itu. di saat terpuruk begini, di saat kekecewaan gila melanda gara gara tidak lolos di snmptn undangan ke UGM, saya menemukan kalimat ini. dan... damn! ini kalimat asik bener, pikirku. kenapa? karena atas segala yang kabar buruk tentang ketidaklolosan itu, maka di sana lah proses memanusiakan manusia itu beraksi. proses di mana manusia yang satu ini harus terus terjaga, jangan sampai terlelap di kekecewaannya itu. meski harus mengawali dengan menangis lama dan bengong semalaman, asalkan mampu kembali tersenyum itu adalah proses memanusiakan manusia. salah sendiri terlalu berharap, padahal aku selalu percaya kalimat ini: don't expect too much. tapi kenyataannya? terlalu tinggi menggantungkan harapan itu kadang tidak baik, sekalinya kecewa... brukk! bukan cuma jatuh, tapi ambruk! yups! karena itulah aku setuju dengan kalimat itu: pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.
lalu apa kabar yang nggak asik? nah! mari kita bahas..
hah! kalimat ini sungguh tidak cocok dengan keadaan yang dialami pelajar zaman sekarang, khususnya aku. kenapa? karena itu kalimat sungguh bullshit! bohong! banget! proses memanusiakan manusia apanya? bah! yang ada, proses merobotkan manusia. look, sekarang ini anak muda macam aku tuh semacam sudah menjadi budak pelajaran. budak nilai. tai kucing emang! anak anak tuh sudah menjadi mesin mesin yang dikontrol oleh keinginan goblok mereka soal pendidikan yang bergengsi. dan sialnya, orang yang satu ini juga ikutan tololnya. nilai atau angka atau apapun itu, sudah menjadi alat mengukur strata kita. semakin besar nilai, maka semakin terhormatlah kita! banci! dan akhirnyaa? ya, beginilah. jadilah kita robot goblok yang diatur oleh nilai dan ambisi gila kita. dan hey! inilah pendidikan, proses merobotkan manusia!

cukup sekian. dan terimakasih. dan sampai jumpa. dan mohon maaf.

Kamis, 16 Mei 2013

perasaan yang terbahasakan? entahlah~

"setiap orang itu berbeda, tapi menurutku... sebaik baiknya perasaan ialah perasaan yang terbahasakan."
begitu kata seniorku. apa aku setuju? entahlah. aku cuma balik bertanya padanya: mengapa harus seperti itu? mengapa kita tidak menunggu dan berharap saja? bukankah harusnya seperti itu? ya, menunggu artinya bersabar, dan berharap artinya berdoa. apa itu tidak cukup? tapi dia tetap keukeuh atas pendiriannya.
dan.. aku mengerti. mengerti sekali.karena memang yang aku bicarakan tidak sesimpel itu. menunggu dan berharap. apa itu mudah dilakukan? hah! sulit. amat sulit. meski aku percaya pepatah ini: "there is always someone for someone" (ini yang meyakinkanku untuk menunggu) tapi ternyataaa sialnya, jumlah perempuan itu lebih banyak daripada laki laki. so? mungkin pepatah itu tak lagi berlaku. atau mungkin mesti ada tambahan, jadinya begini: "there is always someone for someone who fight for their love" hm iya nggak? hmm jadi perasaan yang terbahasakan, haruskah? jawabannya tetap sama: entahlah. biar tetap menjadi pertanyaan untukku sampai saatnya tiba untuk terjawab. kapan? entahlah~