Jumat, 14 Desember 2012

kita: tanpa follower atau pun following.

tidak ada yang mesti menjadi follower atau pun following di antara kita.

saya kurang paham. kamu memang seorang Adam dengan balutan kepolosan atau bahkan sialnya kebodohan. bah!
setelah sekian lama saya dan kamu, sedikit demi sedikit berubah menjadi kita. kita. tanpa sebuah peresmian, gunting pita dan syukuran untuk menjadikan kita. entah itu saya yang salah tafsir atau salah harap atau bahkan salah rasa mengenai kita, tapi saya tidak peduli. dari segala tindakanmu itu semua menyiratkan kalau kita ya, kita.
dan seiring berjalannya waktu, saya merasa kalau kita terkadang kembali menjadi masing masing diri dengan asik. saya, ya saya. kamu, ya kamu. tapi entah kenapa kamu lama lama terlihat berusaha untuk menjadi saya. entah memaksakan diri atau bagaimana, kamu seolah ingin mencoba apa yang saya coba. menyukai apa yang saya sukai. melihat apa yang saya lihat. mendengar apa yang saya dengar. saya tidak keberatan, sama sekali tidak. hanya saja, saya yang sebegininya sama kamu tidak pernah berusaha untuk menjadi kamu. cukup lah kita menjadi kita dengan kewarasan dan kegilaan masing masing. tak ada yang mesti diubah.
dan semuanya terasa lebih sesak ketika kamu bilang, "untuk saat ini, saya cuma mau jadi pengikut. nggak mau diikuti." dan ketika saya bertanya bagaimana rasanya jadi pengikut, dengan polosnya kamu menjawab, "ternyata susah juga ya jadi pengikut." duh! jawaban yang bodoh sekali. terlepas dari kepolosan dan keceplosanmu itu, saya menangkap bahwa kamu ini memang tolol. berusaha menjadi pengikut, menjadi orang lain tanpa kamu nikmati proses itu. tanpa kamu resapi perbuatan itu. bah! kamu seolah mengumumkan bahwa kamu siap mengikuti saya kemana pun, tanpa jiwa kamu. yang mengikuti cuma raga. ikut suka. ikut asik. ikut enjoy. tapi itu semua cuma bullshit! tidak ada "hati".
saya lebih suka kamu dengan diri kamu. merasa apa yang ingin kamu rasa. melihat apa yang ingin kamu lihat. mendengar apa yang ingin kamu dengar. bukan yang saya ingin, tapi yang benar benar kamu ingin. karena sesungguhnya untuk menjadi kita, tak perlulah saya menjadi kamu. tak perlulah kamu menjadi saya. hanya cukup meresapi dan menghayati siapa itu kamu dan siapa itu saya.
kita hanya perlu jalan bersama dengan segala yang ada di diri. cukup saya dengan gilanya saya. cukup kamu dengan gilanya kamu. cukup saya dengan warasnya saya. cukup kamu dengan warasnya kamu. cukup kita dengan kegilaan dan kewarasan masing masing.
kita hanya perlu berdampingan dengan kesan, pesan dan alasan masing masing. saya tak perlu mengikuti kamu. kamu tak perlu mengikuti saya. saya tidak semestinya diikuti kamu. dan kamu tidak semestinya diikuti saya. karena... tidak ada yang mesti menjadi follower atau pun following di antara kita.

Rabu, 05 Desember 2012

beranjak tumbuh.

"kamu tau apa artinya tumbuh dewasa?"
geleng kepala
"artinya senyumanmu itu akan berkurang."
deg. saya setuju, setuju sekali. sekali lagi saya amat sangat setuju dengan kalimat tersebut.
sebagai seorang perempuan di ujung usia 16 tahun, saya sangat merasakan dampak dari "tumbuh dewasa itu"
kamu tahu? menurut saya selain berkurangnya senyum, "tumbuh dewasa" pun mengurangi yang namanya mimpi. entahlah, tapi setidaknya itu yang saya rasakan.
seiring berjalannya waktu, mimpi itu terkikis sedikit demi sedikit. dan mengapa bisa demikian? dapat dipastikan itu semua karena "tumbuh dewasa" memaksa kita untuk realistis. maka mimpi mimpi murni yang dulu dibawa dan dibanggakan teracuni oleh yang namanya kenyataan. tuntutan hidup. tuntutan sekitar. tuntutan kewajiban. keharusan. kemestian. dan... ke re a lis tis an.
maka beginilah saya, "tumbuh dewasa" dengan mimpi yang tinggal seujung kuku dan senyum yang ala kadarnya. atau bahkan sampai... ah entahlah!
semakin hari semakin pesimis. apatis. melankolis. dramatis. najis.. kampret abis! hoek. cuih. pret! saya mulai mengumpat. tak terkendali, maafkan. saya cuma manusia dengan sekumpulan rasa dan kata, jadi tak perlulah kamu percayai tulisan payah saya yang di atas. sesungguhnya itu hanyalah fiksi dengan nonfiksi yang disatukan *abaikan.
tetap hidupkan mimpimu, maka kamu akan merasa hidup. sesungguhnya "tumbuh dewasa" atau tidak itu sama saja. mimpi akan selalu ada di dekatmu. entah dengan mimpi "polos"mu terus abadi atau mimpi yang... ya begitulah! tak perlu dilanjutkan, sudah tak karuan. ha!

Jumat, 09 November 2012

di persimpangan segala

di persimpangan segala...

demi apapun, aku hancur. remuk. lebur.
habis digerogoti pikiran.
untuk ke sekian kalinya, lagi dan lagi.
aku mesti terseok- seok begini.
digusur paksa oleh tangan- tangan yang mengaku bernama masa depan.
lagi dan lagi.
aku terjelebam. jatuh.
terdorong dengan kerasnya oleh peran yang kupikul sendiri yang menamainya pelajar. bah!
maka sampailah aku di sini.
di persimpangan segala.
segala rasa.
rasa tertuntut. dan dituntut.
maka aku harus menuntut siapa?
apa perlu aku menuntut segala sistem bobrok yang sampai aku gila begini masih saja dianut?
atau menuntut perempuan gila nan menakjubkan di rumahku dengan alasan mengapa dia melahirkanku?
atau bahkan lebih gilanya lagi aku mesti menuntut Dia? bah! untuk yang satu ini aku hanya bisa beristigfar..
pada akhirnya aku tahu. tahu sekali.
aku mesti menuntut siapa. dan apa.
ya, aku tahu.
pada akhirnya aku mesti menuntut aku.
menuntut perempuan gila satu ini.
menuntut diri untuk tetap sabar. tetap sayang. tetap ikhlas. dan tetap cinta.
atas segala yang dirasa. dipikir. dilakukan.
atas segala yang di mimpi. di angan. juga di sini.
di persimpangan segala.
ya, bahkan diri ini mesti dituntut oleh dirinya sendiri.
pada akhirnya ya begini.
masih tertuntut. masih dituntut.
ingat, sabar...

Minggu, 21 Oktober 2012

tanpa tujuan

demi apapun, atas nama apapun ini akan menjadi sebuah tulisan tanpa tujuan. tanpa aliran. tanpa pelabuhan. ha! bagaimana mungkin dalam kesadaran kurang dari 40%, orang gila macam saya ini dapat menulis? bah! lalu untuk apa ini semua? hanya sekedar melatih jari jari tangan saya sepertinya. hanya sekedar melatih fokus mata saya mungkin. ah entahlah~ yang saya tahu, dari segala yang diwajibkan, menulis ialah sebuah keharusan bagi saya. meski dengan bahasan tidak karuan seperti ini. meski saya tahu ini tidak akan ada yang baca, kecuali saya sendiri. ya, menjadi pembaca tulisan sendiri itu menakjubkan, tapi sekaligus menyedihkan. betapa malangnya nasib orang aneh yang satu ini, berkeinginan menjadi penulis tanpa pernah punya sosok pembaca. bahkan satu orang pun tidak! bah! atas nama penulis tanpa pembaca, maka aku mengecam kalian yang mengaku "pembaca" tanpa pernah membaca tulisan saya macam ini. ha!ha! *baiklah, ini hanya sedikit umpatan dari hati kerdil saya*. sebenarnya alasan saya menulis dengan sebegininya ialah saya perlu berlatih. itu saja. saya butuh berlatih. sangat sangat butuh berlatih. maka saya menulis, menulis apapun. bahkan menulis tanpa tujuan seperti ini. yak! Hakuna Matata! :)

Sabtu, 13 Oktober 2012

keentahan yang entah.

ada yang mesti kutulis, kata yang entah, cerita yang entah pula. bah! lalu apa yang ingin aku tulis? entah. yang kini kutulis ialah keentahan yang tak berujung. keentahan yang memiliki kadar yang entah. apa kau mengerti apa yang kutulis? aku rasa kau akan jawab entah. ah, entahlah~ aku hanya bisa menebak. berasumsi dengan kemungkinan kemungkinan yang ada dan yang akan ada. lalu ini intinya apa yang akan kutulis? lagi lagi entah. silahkan kau terka kemana tulisan ini bertuju. atau mungkin kau akan menemukan kembali keentahan yang entah? ah entahlah~ lagi lagi aku hanya bisa berasumsi. mencoba berlogika di atas logika. bah! dari mana aku dapat kata kata itu? dari yang kubaca tentunya, bahkan logika saja aku tak tahu dimana dan bagaimana letaknya. seolah mesti mengeluarkan lagi kata: entah. maka akan kunikmati keentahan ini selagi masih ada, selagi aku masih arif menggunakan kata entah. karena aku takut kalau kalau aku telah menemukan jawaban dari semua yang entah ini, maka tak ada lagi pengakuan dariku tentang ketidaktahuan: keentahan itu. karena mungkin aku akan merasa menjadi spesies gila yang tahu segalanya. bah! aku mulai mengkhayal, ngawur. kampret! sudahlah, lebih baik aku akhiri saja sampai di sini. biar entah tetap menemaniku. di sini. tempat yang entah. di keadaan yang entah pula. bah! hidup entah! horas!

Selasa, 17 Juli 2012

Perahu Kertas- Maudy Ayunda

Salam sesama Agen Neptunus, kawan! lagu Perahu Kertas sudah keluar, awalnya... agak sulit untuk diikuti dan terkesan biasa saja hehe tapi setelah berulang- ulang diputar, maka saya mendapati bahwa saya telah tergila- gila dengan lagu ini! terlebih karena liriknya yang sederhana namun maknanya tak sesederhana katanya, apalagi jika kita telah membaca novelnya. Intinya, lagu ini benar benar mencerminkan isi novel Perahu Kertas, mari kita liat liriknya:

~Perahu Kertas~

Perahu kertasku kan melaju
Membawa surat cinta bagimu
Kata- kata yang sedikit gila
Tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
Betapa ajaib hidup ini
Mencari- cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri

Hidupkan lagi mimpi- mimpi
Cinta- cinta
Cita- cita
Cinta- cinta
yang lama kupendam sendiri
Berdua, ku bisa percaya

*Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
dan kau ada di antara miliaran manusia
dan ku bisa dengan radarku.. menemukanmu..

Tiada lagi yang mampu berdiri, halangi rasaku, cintaku padamu..


ya! begitulah... rasanya seperti saya ini telah menemukan Keenan di kehidupan nyata jika mendengarkan lagu ini. Selamat mencari Agen Neptunus lainnya kawan! Gunakan radarmu! yeah!

Selasa, 19 Juni 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah- TERE LIYE


Pertama liat judulnya, kesan pertama: ini kayaknya ngebahas soal bangsa Cina. Pas liat lebih dekat, terus baca bagian belakang buku, baca... baca... baca... dan... mata terhenti tepat di akhir kalimat komentar seorang Ibu mengenai isi buku ini:
Saya berdoa semoga saya bisa menjadikan anak lelaki saya "bujang berhati paling lurus" seperti Borno. Amin.
Dari sana, saya langsung ngeceng sengeceng ngecengnnya buku ini, karena sebuah kalimat "bujang berhati paling lurus". Saya seolah terbius oleh kalimat itu dan mungkin tergoda dengan keberadaan "bujang berhati paling lurus" itu. Saya bahkan sempat menulis bio di twitter saya mengenai pencarian "bujang berhati paling lurus" itu, saya mengumbar- umbar kalimat itu pada orang rumah dan sahabat saya tanpa tahu siapa dan bagaimana "bujang berhati paling lurus" itu. Ya, saya belum baca novel ini saat itu hehehe.
Saya menunggu berbulan bulan untuk bisa mendapatkan novel ini. Saya ngeceng ini novel tanpa tahu siapa pengarangnya, mungkin tidak peduli. Ya, ini kebiasaan buruk saya :Dv
Tapi, di hari saya membeli ini novel, saya baru ngeuh kalau ternyata penulisnya ialah Tere Liye. Penulis yang saya kenal melalui novel Hafalan Sholat Delisa, meski saya belum membaca novel itu hoho. Baiklah, cukup sekian untuk latar belakang perjalanan mengenai keberadaan novel ini di tangan saya. Saatnya membahas isi novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Yuhuuuuu~
Novel ini berlatarkan tempat yang jauh dari tempat saya tinggal, yaitu di pulau Kalimantan sana tepatnya di kota Pontianak dan lebih tepatnya lagi di tepian sungai Kapuas. Menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Borno. Seorang anak lelaki yang semenjak kecil selalu ingin tahu dan sering bertanya hal- hal yang tidak terlalu penting. Semisal, dia bertanya mengenai jika kita buang air besar di hulu Kapuas, kira- kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muara sungai? Lalu dia menanyakan ke setiap orang hingga dia bisa menemukan jawabannya. Ya, begitulah Borno. Polos. Hingga di tahun ke 12 dia hidup, dia mesti kehilangan Ayahnya.
Perjalanan hidupnya pun dimulai ketika dia lulus SMA. Untuk seorang sederhana sepertinya, kuliah hanya bisa menjadi angannya saja, meski mimpinya itu tak pernah putus hingga dia menjadi seorang Pengemudi Sepit (sebuah perahu yang biasa dijadikan alat transportasi di sana yang dijalankan menggunakan mesin). Dan justru pengemudi sepit menjadikannya bertemu dengan seseorang. Perempuan. Dalam perjalanan dia sebagai pengemudi sepit, dapat diambil banyak sekali pelajaran berharga mengenai kebersamaan antar penduduk yang mungkin saat ini sudah jarang di temukan di kota besar tempat saya tinggal. Lalu perjuangan, pengorbanan dan tentu saja Cinta. Ya, sebenarnya inti dari novel ini ialah mengajari kita untuk tahu apa itu Cinta. Cinta yang sebenarnya. Cinta Sejati. Dan juga bagaimana seharusnya kita memperjuangkan Cinta itu sendiri.
Selain itu, saya sebagai pembaca dan sebagai perempuan merasakan hal yang luar biasa kepada Borno, "bujang berhati paling lurus". Ya, dia memang bujang seperti itu. Betapa polosnya dia saat bercerita mengenai ketidaksengajaannya memegang tangan seorang perempuan yang dia sukai, lalu dia merasa berdosa. Betapa naifnya dia ketika ingin menanyakan nama perempuan itu tapi begitu berbelit- belit hingga dia terpaksa melucu dan caranya itu malah membuat perempuan itu tersinggung. Tapi selain melakukan hal- hal konyol, Borno dengan keminiman pengetahuan mengenai cinta, banyak melakukan hal yang luar biasa sebagai lelaki. Lelaki yang tidak pantang menyerah.
Intinya, Borno "bujang berhati paling lurus" mampu memikat hati saya sebagai perempuan. Dan saya sebagai perempuan kini sungguh menaruh harap kepada lelaki di luar sana untuk menjadi "bujang berhati paling lurus" seperti Borno.
Novel ini pun mempunyai arti atau pengertian Cinta yang beragam dan luar biasa. Salah satunya ialah: "Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."
Dan tak kalah menakjubkan lagi, novel ini bisa membuat saya jatuh cinta pada kota itu dan berharap suatu saat saya akan bisa ke sana, menaiki sepit dan mengelilingi sungai Kapuas ditemani "bujang berhati paling lurus" hihihi Aamiin Ya Rabbal Alamiiin :)

Minggu, 20 Mei 2012

Diambang ketidakpastian


Kita ibaratkan saja gadis itu ialah bunga. Bunga apa pun itu, terserah.
Dan, dimana ada bunga maka di sana ada kumbangnya *okay, mungkin ini sedikit dangdut-__-

Berawal dari sang bunga yang kian hari kian tumbuh, entah tumbuh menjadi indah mekar atau malah buruk layu. Yang pasti Tuhan terus menghendakinya untuk tumbuh berkembang. Lalu? Sang bunga memutuskan untuk menghindari kumbang, yang mana pun itu, untuk menjadikan sang bunga itu tempat peristirahatan si kumbang. Ya, sang bunga tidak ingin diganggu oleh kumbang jenis apa pun. Dia ingin tetap fokus dan fokus terhadap proses perkembangannya sekarang ini, dia hanya ingin terus menuju matahari dan berusaha tetap berada di cahaya itu.

Perjuangannya pun tidak mudah. Beberapa kumbang ada yang terus saja memutar mutar mengelilingi sang bunga, bahkan kumbang yang dulu sempat diberi izin untuk bisa beristirahat di bunga itu, seringkali menghampiri sang bunga. Namun, tetap saja sang bunga memegang teguh terhadap prinsipnya dari awal.

Seiring berjalannya waktu, tak ada lagi kumbang yang berani mendekati sang bunga. Sang bunga pun lega, namun sesekali menemukan kesepian di sana. Dan di saat seperti itu, selalu ada kumbang yang akan menghiburnya yang sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri, ya meski mereka berbeda. Dan sang bunga pun tidak keberatan jika dia berdekatan dengan "KumbangSenior", begitu sang bunga menyebutnya. KumbangSenior selalu bisa membuat sang bunga senang, dengan cara apa pun itu. Lalu semuanya menjadi begitu dekat dan... ya, dekat. Sang bunga selalu membutuhkan KumbangSenior untuk menghiburnya, atau pun hanya untuk sekedar mendengar ceritanya. Tapi tak ada yang bisa dijelaskan dari keduanya. Semuanya mengalir. Begitu saja.

Tak lama, sang bunga mulai tertarik pada kumbang yang kadang melewat di sekitarnya. Usut punya usut, kumbang itu tumbuh dari spesies yang memiliki garis keturunan dengan sang bunga. Sedikit aneh, memang, namun ini lah cerita. Sang bunga sedikit ragu untuk menyukai KumbangJauh, ya begitu sang bunga menyebutnya. Karena tempat menetap kumbang itu jauh, kalau pun sang bunga bisa melihat, itu hanya sekilas. Cepat sekali. Diam diam sang bunga mengagumi KembangJauh itu, meski ada “garis” yang membatasi itu semua. KembangJauh selalu terlihat sempurna di mata sang bunga. Bagaimana pun. Ya, sekilas ada masa depan yang sang bunga dapati ketika melihat KumbangJauh. Secara tidak sadar, KembangJauh telah menjadi motivator sang bunga untuk melanjutkan perkembangannya di luar tamannya, jauh. Menjadi bunga rantau.

Sang bunga, meski berharap pada KumbangJauh, dia hanya bisa mengagumi diam diam dalam jarak yang ya... jauh. Tapi sang bunga tidak pernah menunjukannya kepada teman- temannya itu. Kecuali pada sahabatnya sendiri. Sang bunga selalu menghibur diri dengan guyonan dan ocehan yang membuat suasana semakin intim. Dan pada dasarnya, sang bunga memang ceria dan sedikit “ekstrim” jika becanda. Ya, korbannya ialah seekor kumbang, KumbangDiam, dia menyebutnya. Karena memang kumbang itu begitu kalem dan polos, tapi selalu menjadi sasaran untuk “digoda” para bunga, mungkin karena KumbangDiam selain membuat penasaran yaa karena KumbangDiam ialah juara dalam kelas sang bunga. Itu membuat sang bunga kagum, karena tak seperti kumbang lainnya yang ingin selalu terlihat “lebih”, KumbangDiam hanya kalem duduk dan memperhatikan. Hasilnya? Dia yang nomor satu. Sang bunga hampir tiap hari “menggoda” KumbangDiam, lalu reaksinya hanya sekedar senyum atau anggukan kepala. Itu yang membuat sang gadis semakin penasaran, lalu tertarik, kemudian mencari tahu. Akhirnya? Semakin kagum, mungkin. Dan kadang KumbangDiam merespon, lalu membuat sang bunga senyum merekah. Namun, kadang juga KumbangDiam dengan tak acuhnya tidak peduli dengan apa yang dilakukan sang bunga. Dan itu membuat sang bunga bingung.

Dan kini, sang bunga merasa isi kepalanya telah dipenuhi ketiga kumbang itu. Mungkin tak ada yang memikirkan sang bunga dari ketiga kumbang itu, namun sang bunga selalu dibuat pusing oleh ketiganya. Tentang kejelasan rasanya, tentang kejelasan kumbangnya, juga tentang kejelasan pilihannya.

KumbangSenior kini berada di jarak paling jauh dengan sang bunga. Bukan letak, tapi komunikasi. KumbangSenior lama tak mengunjunginya. Dan sedikit demi sedikit, sang bunga mulai merindukannya. Rindu setiap kata yang terlontar dari mulut senior itu. Selalu ada kekuatan dari kata yang KumbangSenior ucapkan, namun kini tak ada lagi. Sang bunga merindukannya juga membutuhkannya.

Lalu, setelah sekian lama KumbangJauh tak terlihat oleh sang bunga, dan sang bunga mulai bisa melupakannya, hingga suatu ketika KumbangJauh terlihat lagi dan sang bunga mengira bahwa semuanya akan baik baik saja, karena semuanya telah berubah. Namun, yang terjadi ialah sang bungan masih merasakan ada yang kemat kemit di dadanya, di hatinya ketika dia harus melihat KembangJauh dari jauh tentunya, saat bersama temannya. Entah itu jantan, atau betina. Ada yang membuat sang bunga kembali memutar video di pikirannya akan masa depan bersama KumbangJauh itu. Ya, sang bunga menaruh harapan akan masa depan padanya.

Kemudian saat semuanya jauh, KumbangDiam sedikit sedikit mengisi hari hari sang bunga, dengan cara apa pun itu. Dengan membuat tertawa, tersenyum, tersipu, terharu bahkan terjatuh. Atau mungkin sampai tergaruk garuk. Ya, karena sikap KumbangDiam yang amat sangat plin plan, tidak konsisten, sehingga membuat sang bunga garuk garuk kepala sendiri karena bingung memastikan apa yang sebenarnya yang ingin dilakukan KumbangDiam. Ya, KumbangDiam ialah spesies yang paling bisa membuat sang bunga garuk garuk kepala selain kudu dan ketombe, tentunya.
Dari sana, sang bunga mulai menerka nerka untuk siapa sebenarnya rasa yang dia miliki dia simpan dan pasti akan dia berikan. Maka, dia sempat bertanya pada pimpinan yang selalu memberikan nasihat untuk siapa pun dan dalam soal apa pun. “Pa, saya ingin bertanya. Bagaimana caranya membedakan antara rasa yang sebenarnya dengan hanya sekedar rasa kagum?” lalu, sang pemimpin menjawab, “Dari sekian banyak mereka yang mengagumi saya, pengagum terbesar saya ialah istri saya. Akan ada rasa itu jika kita mengaguminya. Tidak mungkin kita mencintainya jika kita tidak mengaguminya”

Sang bunga pun semakin bingung, dia hanya bisa diam dan menunggu waktu. Ya, menunggu waktu saja yang akan menjawabnya. Kadang, biarkan mengalir selalu menjadi kalimat yang sang bunga sukai dalam keadaan seperti ini. Diambang ketidakpastian.

Senin, 23 April 2012

Kugy: Dear, Neptunus

Dear, Neptunus...

aku mencintainya. di depannya aku menjadi diriku sendiri. seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku, dia pun begitu. membuatku hanyut oleh sorot matanya, membuatku lupa oleh kesederhanaan suaranya. sampai aku tak bisa katakan apa- apa padanya, bahkan untuk sekedar bilang : Rindu atau Butuh. banyak yang ga ngerti, lalu terluka dan saling menyalahkan. maka aku tuliskan saja, lalu kusimpan, dan mungkin aku kirimkan ke.... entah kemana.


tulisan di atas itu ialah kalimat yang Kugy ucapkan dalam film Perahu Kertas (Maudy Ayunda). saya liat dari YouTubu Teasernya, kalau yang belum liat bisa liat di http://www.youtube.com/watch?v=WWOq4y8dmfc

kalimat yang sungguh sungguh :))

Sabtu, 24 Maret 2012

Hujan Kita


Sore itu hujan. Aku sengaja berbagi jaketku dengannya untuk melindungi kepala kami dari air hujan yang mulai deras. Walaupun sebenarnya rintik itu tetap bisa terjatuh membasahi jaketku, dan tentu saja akan sampai pada rambut dan kepala kami. Harusnya kami berteduh, namun ternyata kesukaanku terhadap hujan membuatku dengannya tak berteduh. Selain itu, kami memang harus segera sampai rumah masing­-masing sebelum hari mulai gelap. Riandra Fabrian Pratama namanya. Ya, nama teman SMA-ku juga teman berbagi jaket. Saat itu kami kenal belum cukup lama, mungkin saat MPLS di SMA-ku diadakan. Kami teman sekelas, lalu teman sebangku, kemudian teman cerita, dan mungkin dimulai dari sore itu dia teman istimewa.

Mungkin saat itu, sebagai teman aku tidak bermaksud apa-apa berbagi jaket dengannya. Lagipula Andra tak membawa jaket. Tak seperti sekarang, setiap aku memikirkan sore itu aku hanya bisa tersenyum menertawai betapa mudahnya aku berbagi jaket dengannya, sementara para perempuan di luar sana mendapat jaket dari sang lelaki yang sedang dia pakai dan mengenakannya pada perempuan itu.

Lama kami berjalan, membuat seragam putih abu kami mulai basah. Di tengah perjalanan dia berkata, “kamu tau aja kalau aku lagi sakit, pake ngelindungin aku sama jaket segala lagi” lalu dia tersenyum dan sedikit mengeluarkan tawanya.”laaah, geer amat bang pake nyangka ngelindungin segala. Cuma kasian aja liat anak orang kehujanan, nanti maminya ngambek lagi :p” candaku menjawab perkataannya itu. Sebenarnya, saat itu aku tidak tahu kalau dia sakit.

Rumah demi rumah, jalan demi jalan kami lewati hingga akhirnya sampai pada pertigaan dimana kami harus berpisah. Sebelum saling pamit, aku ingat dia sempat berkata, “hujan yang manis” lagi lagi sambil memberikan senyumnya itu. Saat itu aku memang bodoh, mendengar dia berkata seperti itu yang kulakukan hanya menjulurkan lidahku dan mencoba untuk merasakan rintik hujan yang dia katakan manis. Saat itu pun aku heran, manis dari mananya bang? Bodoh sekali.

Lalu sekarang aku mengerti apa maksudnya. Karena memang setiap hujan jatuh, aku selalu mengingat sore itu. Hujan yang manis. Kenangan yang manis. Senyumnya yang manis. Aku yang manis.(nah loh?)

Setelah sore itu  aku dengan Andra menjadi lebih dekat apalagi jika hujan turun, pasti kuhabiskan waktu menikmati hujan bersamanya. Hingga suatu hari, sebagai gadis remaja biasanya aku tak dapat membohongi perasaanku saat dia bilang tentang satu perasaan yang dia rasakan tentangku, tentang senyumku, tawaku, tangisku, kisahku, hidupku, dan tak lupa tentang “hujan kita” katanya. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil. Tapi dia seolah melihat hal yang luar biasa dari apa yang kulakukan saat itu. Dia kembali tersenyum, senyum terbaik yang kulihat darinya. Hey perempuan di luar sana, jangan ganggu Riandra Fabrian Pratama ya, sekarang dia sudah jadi milik Efira Ananda Mevia hihihi. Kamu tau dra? Itu yang aku katakan dalam hati setelah kau ucapkan kata itu.

Hari berganti hari, hubungan aku dengan dia sudah terjalin satu tahun lebih. Di kelas 2 kelas kami berbeda dan tentu saja di kelas 3 pun berbeda. Ternyata berbagi perasaan itu tak semudah yang aku bayangkan sebelumnya. Namun, lebih tak mudah lagi jika menutupi perasaan itu, bukan? Hubunganku dengannya sudah bukan rahasia lagi, teman seangkatan bahkan adik kelas pun tahu. Itu bukan karena kami selalu nempel jalan kesana kemari berduaan, tapi karena kami adalah sepasang Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS . Dan hal yang tidak diinginkan dimulai saat kami harus bertugas sebagai Tatib untuk menyambut MPLS siswa kelas 1. Adik kelas baru yang mungkin paling cantik diantara siswa baru menyukai sang Ketua OSIS, Riandra Fabrian Putra. Mengapa aku bisa tahu? Teman Andra temanku juga, bukan?

Suatu hari, aku sempat bertanya tentang hal ini padanya. Siapa yang tak cemas jika ada seorang gadis cantik dan muda(setidaknya beda dua tahun) menyukai kekasihmu? Andra dengan santai menjawab, “kamu itu ya kamu. Kalaupun dia menyukaiku, apakah dia bisa sepertimu? Tidak bisa kan? Yang ada di sini, ya cuma kamu” sambil menyimpan tangannya di dada sebelah kirinya. Aku harap akan selalu begitu dra, aku takut seiring berjalannya waktu aku hilang... di hatimu itu. Aku sedih dra kalau mengingat harapan yang bodoh itu.

Siang itu hujan turun. Aku mencari Andra ke kelasnya, sambil membawa tas dan jaketku yang di simpan di pundak kananku aku berjalan setengah lari tak sabar mengajaknya pulang dan menikmati hujan siang itu. Namun, kuurungkan niatku saat aku sampai di depan kelasnya. Kulihat di sudut kelas ada seorang lelaki yang tak asing bagiku dengan seorang perempuan yang duduk di bangku kelas yang sudah kosong. Ya, dia Andra-ku dengan gadis itu. Entah apa yang sedang mereka lakukan, aku tak mau menjelaskannya. Aku hanya bisa terpaku melihat mereka, ingin rasanya kuhampiri mereka dan mencaci maki mereka. Namun, yang kulakukan hanya diam ,dan tak butuh waktu lama untuk membuat mereka sadar akan kehadiranku. Aku tahu Andra melihatku, namun kuputuskan untuk pergi dari sana sebelum air mataku jatuh.

Aku kira Andra akan mengejarku dan menjelaskan semuanya. Namun, ternyata aku salah. Sakit yang kurasa tak tertahankan lagi. Yang terpikirkan saat itu hanyalah pergi dari tempat itu secepatnya. Aku lari sekuat yang kubisa, menembus hujan yang semakin lama semakin deras. Air di mataku tak terbendung lagi, semuanya tumpah bersama hujan yang jatuh siang itu. Kalau persediaan air di mataku banyak, mungkin yang keluar akan sama dengan rintik hujan yang terjatuh saat itu. “Betapa bodohnya aku”. Hanya itu yang bia kukatakan selama perjalanan menuju rumahku.
Sesampai aku di rumah, yang kucari hanya satu: handphoneku.
Aku melihatmu dengan gadis itu tadi. Entah apa yang kamu lakukan, aku tak mau tau. Terimakasih dra untuk hari-hari yang kita lewati selama ini. Terimakasih untuk senyummu, tawamu, candamu juga sedihmu dan tak lupa Hujan Kita. Aku masih ingat saat kamu bilang Hujan Yang Manis. Saat itu aku tak mengerti, namun seiring berjalannya waktu aku mengerti maksudmu. Terimakasih atas ketulusanmu menemaniku menikmati hujan yang kusuka. Namun, yang kudapat darimu bukan hanya Hujan Yang Manis. Hari ini kamu telah memberiku hujan yang lain, Hujan Yang Pahit. Terimakasih kamu telah menghiasi hujanku dengan Hujan Yang Manis, lalu kamu menghapusnya dengan Hujan Yang Pahit. Ya, Hujan Kita. Cukup sampai di sini, mungkin gadis itu telah bisa menjadiku sehingga ada dia di hatimu, atau mungkin dia tetap menjadi diri sendiri yang bisa membuatnya berada di hatimu. Ah apapun itu, intinya adalah sudah tak ada tempat untukku di hatimu. Begitu pun kamu di hatiku.
To: Riandra Fabrian Pratama-ku
Des,14. 2008 15:37

Sekarang aku heran, mengapa harus sepanjang lebar itu aku sms hanya untuk menyatakan putus? Tenyata memang benar-benar bodoh aku saat itu. Andra membalas sms-ku tak kalah panjang, dia menjelaskan segalanya. Namun, aku tak peduli lagi.

Seiring berjalannya waktu, aku sudah bisa melupakannya terlebih karena UN yang semakin dekat yang membuatku semakin sibuk. Hingga akhirnya aku lulus dan meneruskan kuliah di luar kota. Aku telah lupa soal dia. Benar-benar lupa. Sampai kemarin sore, semua terputar kembali di ingatanku.

Saat itu, aku baru menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku yang telah lama tak kutengok. Bunda benar, Bandung sedikit berubah. Aku keluar dari Stasiun Kereta Api Bandung dengan koper yang sedikit membuat ribet. Aku sengaja tak memberitahu bunda bahwa aku akan pulang. Biar itu menjadi kejutan di Hari Ibu tahun ini. Namun, ternyata aku yang dikejutkan oleh keadaan Bandung yang hujan sore itu, sehingga membuatku tertahan di stasiun untuk menunggu hujan reda.

Ya, aku tak seperti dulu yang tergila-gila akan air hujan dan bertindak bodoh menembus hujan meski yang kudapat ialah omelan bunda. Semakin besar aku semakin mengerti untuk tidak melakukaan tindakan bodoh, termasuk sengaja membuat sekujur tubuh basah oleh air hujan.

Aku hanya bisa menunggu sambil duduk di kursi stasiun yang tidak terlalu ramai. Lama aku menunggu, namun tidak ada tanda-tanda hujan mau berhenti. Akhirnya, kuputuskan untuk bergegas meninggalkan tempat itu karna waktu saat itu telah menunjukan pukul 5 sore, dan aku tak mau terlalu malam sampai rumah.

Jaket yang kubawa dari Jogja ada di dalam koperku, maka saat itu kuputuskan untuk sedikit berlari menembus hujan tanpa jaket. Setengah perjalanan menuju taksi-taksi yang berdiam di luar stasiun, seorang lelaki menghampiriku dan membagi payung yang dia pegang . Aku sontak kaget atas kedatangannya. Saat itu langsung kupalingkan wajahku kepada lelaki itu. Aku tak melanjutkan berjalan. Begitu pun dia. Dia tersenyum, masih senyumnya yang dulu. Ya, Riandra Fabrian Pratama. Tak ada yang berubah darinya, masih dengan wajahnya yang teduh, senyumnya yang manis, juga tatapannya yang selalu membuat tulangku terasa terbuat dari busa. Sementara aku, mungkin aku masih sama seperti yang dulu, namun kali ini aku tak membalas senyumnya itu.

“Hai, ra. Kamu tak berubah ya, masih suka hujan.” Aku masih ingat saat dia mengatakan itu setelah dia mengeluarkan senyumnya itu. Tapi aku tak menjawab apa-apa, tak ada kata yang bisa terucap selain menatapnya dengan lekat.

Saat itu tak ada yang terpikirkan olehku selain pergi menjauh darinya sebelum kenangan yang dulu teringat kembali dan membuatku terlihat bodoh di depannya. Aku berlari menjauh darinya dan secepatnya masuk ke dalam taksi yang berhenti paling dekat denganku. Dia tak megejarku. Percuma aku lari, toh dia tidak peduli dengan kepergianku. Lagi lagi begitu, sama seperti dulu dia yang tidak mengejarku sekali pun aku terluka. Sekarang dia tidak mengejarku sekali pun aku rindu.

Di dalam taksi aku melihat dia masih berdiri di sana dengan payung di tangan yang masih sama. Namun, tak seperti sebelumnya dia saat itu ditemani seorang perempuan yang baru saja keluar dari stasiun. Ah, ternyata masih gadis yang sama.

Kamu benar-benar gila dra! Bahkan aku butuh waktu tiga tahun untuk benar-benar bisa melupakanmu, sementara lima menit melihatmu lagi dapat memutar memoriku tentangmu. Lagi dan lagi. Semuanya, tak terkecuali. Sampai hari kemarin berlalu pun aku masih belum bisa melupakan semuanya, bahkan bertambah buruk. Ingatanku tentangmu, senyummu, tawamu, sedihmu, tatapanmu dan juga Hujan Kita yang telah kulupakan pun kini berputar kembali di kepalaku. Terlihat jelas. Jelas sekali. Seperti seminggu yang lalu kita menari di bawah hujan dengan putih abu yang semakin basah, seperti tiga hari yang lalu saat aku harus menangisimu di bawah rintik hujan yang begitu deras.

Dan untukmu, Hujan. Ada apa denganmu? Sepertinya kau suka sekali melihatku dengannya di bawah rintikmu ya? Mengapa harus saat hujan? Aku tahu bagaimana manisnya hujan karena dia. Aku pun tahu bagaimana pahitnya hujan karena dia. Dan kini kau ingin aku merasakan hujan yang bagaimana lagi? Asin? Asam? Atau apa? Oh sepertinya rasanya hambar. Sekarang kamu dengar Hujan, mulai detik ini Efira Ananda Mefia bersumpah tidak akan menyukai hujan lagi! Sekali pun rintikmu itu bisa melindungiku saat aku menangis di bawahmu agar tak ada seorang pun yang tahu, yang biasa aku lakukan. Karena melihatmu selalu mengingatkanku padanya.

Ya, hujan selalu mengingatkanku padamu, dra. Cinta dengan beribu rintik yang terjatuh dari pelupuk ini. Dra, aku memang merindukanmu. Semoga hujan pun mengingatkanmu padaku. Bukan padanya.

Kini, akan aku biarkan hujan yang mulai turun di luar menghapus jejakku bersamamu. Menghapus jejak kita. Menghapus kenangan kita. Karena aku yakin pasti matahari akan kembali bersinar untuk membuat semuanya kering termasuk air mataku dan lukaku...karenamu.










Rabu, 04 Januari 2012
Edya Sawitri

Kamis, 22 Maret 2012

dia itu.... Senja. lalu aku? bolehkah jadi Kunang- Kunang?

ada yang tau senja? tau pasti laaah. itu adalah perbatasan sore menuju malam, tapi bukan petang, sebelum petang ini. biasanya warnanya oranye dengan garis garis kuning gituuu, pokonya indah sekali.
dan senja adalah satu kata yg sangat aku suka kalau kalau liat sajak pake kata itu. kesan khusus yang didapat.
lalu? yaaa aku suka senja dan dia juga suka senja. dia? siapa?
dia adalah lelaki dengan kecintaannya terhadap bola yang beranggapan bahwa cinta tanpa syarat itu ya bola.
tapi ternyata, lelaki itu suka senja. memang apa salahnya? tidak ada yang salah, namun senja itu bukan sekedar senja. senja itu nyata. berwujud. dengan senyum. dengan mata. dengan rambut panjang. ya, dia itu senja. lelaki itu suka senja. tapi aku menyukai lelaki itu.
lelaki itu pernah bilang: tak usah berlebih, yang sederhana saja. yang sederhana juga sudah manis dan cantik.
ternyata yang sederhana itu senja. pembohong. dia bilang senja itu sederhana? lalu aku ini apa? terlalu sederhana, mungkin?

senja. senja. senja itu indah. memberikan warna. cantik sekali. manis sekali. jauh dari kata sederhana.
dan, mungkin lelaki itu memang mencari yang seperti itu. senja yang memberinya warna. setiap hari dia muncul, meski sesaat tapi panjang dan tak lekang seterusnya setiap hari.
lalu aku? terlihat olehnya saja mungkin tidak. tak ada alasan baginya untuk melihat ke arahku. karena apa? karena aku selalu bersembunyi di balik awan hitam. diam. malu- malu sambil mengintip. padahal di balik itu aku menyimpan harap, perhatian, kasih, cemas dan cemburu.
hhh hai, aku ikut bahagia dengan kebahagianmu setiap hari melihat senja. senja yang memberimu warna. warna indah di pagi siang dan malammu.
tapi, beri aku kesempatan untuk kali ini saja. jika aku tak bisa menjadi senja yang memberi warna, bolehkah aku menjadi kunang- kunangmu saja?
kunang- kunang dengan cahaya kecilnya yang menerangi di saat malam datang. hanya saat malam. lalu mati. hanya hidup sehari. ya, ijinkan aku menjadi kunang- kunangmu. menerangimu sesaat namun hangat. berkesan.
sekali lagi, bolehkah?

Selasa, 20 Maret 2012

sudah tahu. cukup. jangan lagi, ya??

malam ini aku benar benar lelah, lelah selelah lelahnya.
sekolah siang membuat semua kegiatan tidak teratur, mudah lelah juga tentunya. tak ada semangat sama sekali.
dimulai dengan lelahnya aku yang harus mengerjakan proposal tadi shubuh, lalu beralih mengerjakan LKS B. Indonesia dan berakhir di sekolah.
siang tadi mataharinya benar benar sedang ceria, tapi itu membuat keningku berkerut terus dan terus.
aaah, aku memang tak suka sekolah siang apalagi jika bukan musim hujan, maka semuanya terasa begitu menyebalkan. di sekolah pun begitu dan begitu saja, mataku mulai lelah dan sebagian teman mengira aku sakit.
ya, benar aku sakit. lama- lama bisa sakit kalau sekolah terus begini -___-
pulang jam setengah 5 dengan keadaan yang luyu ternyata tak membuat semuanya selesai di situ saja. aku masih harus rapat di organisasi yang aku jalani, akhirnya maghrib aku baru bisa pulang.
dari sana pun belum selesai, aku harus membuat surat yang wajib selesai besok untuk dibagikan kepada orang tua murid anggota organisasi yang aku jalani.
semuanya terasa sulit, karena aku sudah cukup lelah menjalani hari ini. tapi mau tak mau tugas adalah tugas, kewajiban ialah kewajiban. walau bagaimanapun aku harus tetap mnenerima dan mengerjakannya.
aku paksakan untuk tetap berusaha semangat meski yang terjadi sesekali aku mengeluh u.u
dan ketika surat itu hampir rampung, aku memutuskan untuk on twitter, karena aku mulai bosan. dan apa yang terjadi? aku melihat dia muncul di TL-ku. isinya? begini:
@siabang= lelaki yang kukagumi @pacardia= kemungkinan perempuannya
@siabang :5 menit aja, jam 9 pulang RT pacardia: Karokean ahhh
hhhh aku menghela napas untuk ke sekian kalinya pada hari ini. aku hanya bisa memandang kalimat itu untuk beberapa saat. aah, begitu perhatiannya dia pada perempuannya itu. namun, kali ini reaksiku lain, biasanya aku akan langsung uring- uringan bahkan marah- marah tak jelas, dan tentu saja mengumpat. dan kali ini aku hanya diam, terenyuh sebentar. sepertinya ada rasa yang sedang menerka- nerka di dalam hatiku. antara menerima apa yang kulihat dan tentu saja menyangkal. lalu aku hanya bisa menutup mata pelan, dan sangat pelan. begitu dan begitu seterusnya. atau sesekali menghela napas panjang bahkan menghembuskan napas lewat mulut dengan cepat, takut air di mata ini akan terjatuh karena dia. lagi.
ah, taukah kamu? aku benar- benar lelah hari ini dan di saat kucoba untuk melepaskan kepenatan ini kamu muncul dengan hal yang mengejutkanku. bukan hal baik tentunya. kamu menghilangkan semua rasa lelahku dalam sekolah dan tugas, namun kamu menggantikannya dengan kelelahan yang baru. dan baru kali ini aku merasa lelah. lelah mengagumimu.__.
aku tahu dari awal semuanya memang tidak memungkinkan. dirimu dan diriku. jaraknya terlalu rumit. ya, jarak kita terlalu banyak. kiloanmeter. usia. dan, aliran darah. juga tentu saja: rasa.
ya, AKU SUDAH TAHU, SEMUANYA TIDAK MUNGKIN. DARI AWAL SEKALI!
tapi mengapa aku terus melakukannya? semakin aku berusaha melupakanmu semakin sulit bayanganmu aku tepiskan! setiap hari! setiap jam! semua yang ada di sekitar selalu mengingatkanku padamu. padahal barang sedetik pun kita tak pernah jumpa kan? bodoh sekali!!
dalam hati aku terus berkata. aku sudah tahu. cukup sampai di sini rasa ini. jangan lagi karena semakin lama rasa ini semakin bertambah. aku mohooooon Ya Allaaaaaaah mohon mohon mohoooooon. mohon dengan sangat. mohon dengan sangat. sangat. sangat.
ajari aku untuk menata hatiku dengan baik dan benar. baik untukku untuknya dan untuk-Mu. benar untukku, untuknya dan untuk-Mu. Pleaseeeee Ya Allaaaah pleaseeeeee, aku mohon.
aku sudah tahu. cukup. jangan lagi, ya? :'(

Senin, 19 Maret 2012

menunggu dan ditunggu, merindu dan dirindu

Kemarin di sekolah waktu pelajaran matematika yang ternyata Bapaknya mesti keluar karena guru- guru ada perlu, maka aku iseng- iseng buka buku catatan matematika dari belakang. isinya penuh coretan angka, dari tambah kurang kali sampai bagi ada di sana. tapi ada yang berbeda, ada tulisan jariku dengan pensil tipis yang nampak begitu berantakan namun masih bisa terbaca. aku lupa kapan itu kutulis, isinya seperti ini:

aku masih belum terbiasa dengan caramu menghilang
masih belum terbiasa dengan caramu pergi
tapi aku sudah terbiasa menunggumu
aku sudah terbiasa merindumu
meski sudah berulang kali terjadi, dengan bodohnya aku masih melakukan kebiasaan bodoh itu
menunggumu dan merindumu
orang bilang menunggu adalah suatu hal yang paling menyebalkan
tapi aku berpikir, mungkin kamu lebih sebal menjadi orang yang ditunggu, bukan? ditunggu aku.
orang bilang merindu adalah suatu hal yang paling menyakitkan
tapi aku berpikir, kamu lebih sakit mendengar setiap keluhanku merindukanmu sebagai orang yang dirindukan, bukan? dirindukanku.
maka dari itu, aku pikir bahwa kamu lebih menyedihkan daripada aku
orang yang ditunggu dan dirindu lebih memiliki beban yang tak sanggup kamu keluhkan. karena kadang orang berpikir bahwa ditunggu dan dirindukan itu ialah hal yang membanggakan.
oleh karena itu, kuputuskan untuk tak lagi menunggumu dan juga tak lagi merindumu. karena aku tak ingin menyimpan rasa sebal dan sakit di dirimu.
biar suatu saat, mungkin kamu bisa menungguku dan merindukanku
dan aku akan menjadi orang yang ditunggu olehmu dan dirindu olehmu
tapi tenang, aku takkan bilang padamu itu tindakan bodoh.
juga aku tak akan merasa sebal ditunggu
tak akan merasa sakit dirindukan
dengan senang hati aku menerimanya
dan satu hal, jika kamu menungguku karena aku menghilang
dan jika kamu merindukanku karena aku pergi
aku akan beritahu caraku menghilang dan pergi
tak sepertimu sekarang. 
menghilang dan pergi. 
tiba- tiba.


okay, yang di atas memang cukup lebay. tapi entahlah itu aku tulis kapan sedang apa untuk siapa dimana dan segala rupa. yang aku tahu, aku menulis dengan sendirinya, jariku bergerak selaras dengan kata dalam pikiranku. aku tak tahu pikiran itu datang dari mana. mungkin aku pernah merasakannya, ah entahlah.

Sabtu, 17 Maret 2012

Hujan di Bulan Maret

malam ini hujan yang dinanti- nanti sejak lama akhirnya turun juga. setelah sekian hari cuma bisa berharap hujan datang, kini bukan lagi harapan tapi kenyatan :) aku kangen hujan, hujan itu biasanya dimulai dari bulan September. kenapa? kata orang rumah sih gara- gara namanya septemBER, jadi hujannya BER!Jatuh! dan berakhir di bulan Februari(yang ini bulan kesukaan aku) soalnya Maretnya hujan tuh berhenti. kenapa juga? kata orang rumah lagi yaaa itu namanya maRET!Berhenti! gituuuu
naaah kemarin kemarin tuh yaa anginnya emang kenceng, tapi sekedar angin bukan hujan. ya, kemarin juga sempet berpikir kalau emang udah bukan zamannya hujan, ya jelas- jelas bulan Maret. eh taunyaaaa, malam ini hujan! alhamdulillaaaaah:) nggak tau kenapa, cuma denger hujan itu yaa rasanya denger irama yang jelas- jelas nggak mengganggu sama sekali, bikin tenang, adem, dan enak kalau tidur ditemani hujan, rasanya ada temen walupun orang rumah udah pada mimpi semua. bener kata Leo, hujan itu emang punya esensi khusus yang emang nggak bisa dijelasin. cuma orang- orang yang suka hujan aja yang tau alasannya dan mereka punya alasan masing- masing yang kadang juga mereka cuma suka. suka aja. titik.
dan aku suka hujan. cinta hujan. dan cuma hujan yang bisa bikin segalanya lebih baik:) termasuk di minggu ini yang banyak sekali cobaannya. hujan di bulan maret, terimakasih banyak. rasanya seperti hujan. memang hujan. beruntung hujan:)

Kamis, 15 Maret 2012

Leo menyadarinya!

ternyata, kemarin itu si pembaca yang satu ini belum selesai membaca novel "dan hujan pun berhenti" udah mengambil kesimpulan tentang Leo, padahal semuanya belum berhenti di situ. kali ini si pembacanya udah selesai dong tamat beres res res! dan yang terlintas di pikiran si pembaca saat menyelesaikan novel itu adalah... gila! ini novel bener bener gila! si aku ga ngerti ini endingnya ngegantung aja gitu? iya?! aaaaaaaaah!*ngacak2 rambut
tapi itu gafafa, emang lebih asik begitu. okay, kembali ke Leo. apa yang Leo sadari? hemm Leo sadar kalau hujan itu hebat! yeah!\m/ setelah sebelumnya Leo emang suka hujan dan sempat membenci hujan akhirnya Leoooo sadaaaar! yuhuuuuuuu~ I love this part :D
Leo bahkan sempat hujan- hujanan dan Leo sendiri ga tau kenapa kepingin hujan- hujanaaan.<---- ini si pembaca juga sering melakukannya hehehe :Dv
nih salah satu yang aku suka waktu Leo ngajak Stella hujan- hujanan:
Dan mereka membuka pintu ke kebun Spiza, kemudian hujan- hujanan di sana. Berlari- lari. Tanpa batas. Merebahkan tubuh pada alam. Membiarkan hujan sekali lagi melumerkan segalanya.
nah yang ini juga:
Masalahnya gue nggak terlalu peduli. Gue saat itu lebih peduli dan lebih excite ke satu hal: tadi pas pulang turun hujan. Dan, gue pikir itu hebat.
naah kalau yang ini awal- awal Leo suka hujan sebelum Leo sempat membencinya:
Tapi akhir- akhirnya gue ama dia ujan- ujanan, dan gue ternyata ngerasain semua yang dia bilang. Ternyata memang ngademin. Ternyata hujan beneran punya esensi khusus yang nggak bisa gue jelasin di sini.
kalau yang ini Leo sadar, antara Leo Iris Spiza dan Hujan itu memiliki kebetulan yang emang aneh, dan buat Leonya juga tambah aneh hihihi:
Dan sebenernya, selain sama Iris, waktu gue nyantorin rumah Spiza juga itu hujan. Aneh, emang.
Gue juga nggak ngerti kenapa. Dan fakta umum yang kita- kita juga tahu, Bahwa di hujan nggak ada cahaya
........
Tapi entah ada apa sama gue, soalnya hari ini gue mutusin kehilangan rasio gue lagi.
Hari ini, gue milih untuk nonpayung, dan lari- lari bebas di jalan. Nikmatin lagi kenoncahayaan gue.

Sebenernya masih banyak yang pengen ditulis, tapi ini kok kayaknya kerjaan yang lain menanti- nanti gitu untuk dijamahi olehku fufufu :(

Leo, I think you're so special

ehem, tenaaaang si abang bukan Leo kok namanya :D
jadi, Leo siapa?
buat yang udah baca novelnya Farida Susanty dengan judul "dan hujan pun berhenti" pasti tau siapa dia. yup, dia tokoh utama dari novel tersebut. menurut aku, ka Farida emang bener- bener berhasil munculin sosok Leo yang pastinya bikin aku sebagai pembaca hatinya dibolak balik diangkat dijatuhin dibuat nyesek ampe nangis segala tapi kadang dibuat kesel dan dibuat simpati empati bahkan pengen ngasih kebahagiaan gitu buat Leo*okey, yg ini gatau-__-*
Leo oh Leo.... sosok cowok yang bener bener p a r a h kepribadian yang su sah di te bak penuh dengan kepura- puraan hidupnya. dan, dari sana Leo punya hal yang menarik buat digali lebih lanjut sama si pembaca alias aku yang kalau dalam kenyataan ketemu cowok kayak dia mungkin udah ngebet ngejar- ngejar dia dan kalau bisa menjaga dan membahagiakan dia*cieelaaah* juga buat dia percaya untuk mempercayai orang- orang agar dia tidak merasa selalu dikhianati orang sekitar.
Leo, kamu benci hujan. Aku mencintai hujan. Leo punya alasan yang jelas untuk melakukan itu, begitu pun aku. jika aku jadi Leo maka aku akan berhenti mencintai hujan. ya, Leo I think you're so special. untukku tentu saja juga untuk Iris untuk Spiza untuk Okasan Otosan Cashey Kazi Adi Luthfi Kevin David dan tentu saja Leo spesial untuk Farida Susanty juga bagi para pembaca mungkin berpikiran sama denganku. Once more, Leo I think you're so special :)

Selasa, 13 Maret 2012

kalau kalau galau salah alamat u.u

Semacam galau di pagi hari ini setelah kemarin siang sampai malam sosoan galau tapi sosoan kuat gitu. hhhh tau ga? ngga kan? tapi mau tau kan? iya dong harus mau tau gitu aku juga juga kan mau dikepoin, masa iya ngepoin mulu sih.__.
okay, jadi gini ceritanya. sebagai perempuan berumur 16 tahun dan n o r m a l, maka ada kalanya ada masanya ada waktunya merasakan yang namanya... ehem uhuk uhuk yaaa you know laaah :D itu hal yg wajarkan? wajar dong, plis jawab w a j a r! tapi masalahnya adalaaaaaaah suka sama yang lebih tua 6 tahun! u.u itung coba itung, sekarang aku 16 berarti diaaaa iya 22 tahun u.u dan yang ini masih ga masalah kalau gede kan umur aku 20 terus dia 26, gafafa kan ya? iya plis jawab g a f a f a! tapi sih yang lebih paraah aku di Bandung. apaaaa? B a n d u n g. iya bagus! dia dimana coba? Semarang. dimanaaa? S e m a r a n g!-__- dan kalau dia udah lulus kuliah, maka dia bakal balik ke kampungnya dimana coba? tebak tebak! hhhh di Lampung :( iyaaaaa di L a m p u n g, ketemu sama gajah- gajah gitu! :'( jauuuh kan yaaa?
itu sih belum ada apa- apanya. karenaaaaa yang terpenting dari masalah yang sebenarnya a d a l a h..... plis simak baik- baiiiik, dia itu sepupu aku :'(((
Ini gimana dong? ga bener kan yaa? emang susah sulit ini gatau kenapa bisa tiba- tiba suka gini u.u tapi eyang aku bilang sebenernya ini gapapa kalau mau dijelasin Pancakaki (baca: silsilah keluarga) sih emang darah aku sama si abang itu ga sama*apa ini? ga ngerti ah :o*
dan sebenernya tau ga galaunya ini si aku kenapa? karena kemarin liat di TL twitter dia gitu, kayaknya dia udah punya pacaaaaaaar huaaaaaaaa

Jumat, 09 Maret 2012

Bingung adalah suatu hal yang wajar

Ini tuh semacam kepenasaran tingkat tinggi yang terjadi di malam hari tepatnya pukul 22.45(awal ngetik) di hari Jumat yang akhirnya bikin bingung, bikin merood, penyakit sakit kepala kambuh cenat cenut ga karuan, mata udah merem melek ga puguh tapi tidak merubah apapun untuk tetap penasaran sekaligus bingung tentang satu: blog ._. okay, 2012 ini tuh hey, dan saya baru punya blog? dibikinin pula, ga ngerti lagi. Paraaaaaaah kamu ed! *mencaci diri sendiri sambil mukul- mukul kepal sendiri nangis di bawah shower* okay, bagian ini efek dari bingung. Pada hakikatnya setiap manusia dapat merasakan berbagai macam rasa dalam diri termasuk bingung. Iya ga? Pada intinya saya bingung. dan itu wajar. Cuma bisa berdoa aja biar bingungnya cepet ilang juga minta tolong temen ajarin gituuu hehe. Wassalam.