Selasa, 19 Juni 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah- TERE LIYE


Pertama liat judulnya, kesan pertama: ini kayaknya ngebahas soal bangsa Cina. Pas liat lebih dekat, terus baca bagian belakang buku, baca... baca... baca... dan... mata terhenti tepat di akhir kalimat komentar seorang Ibu mengenai isi buku ini:
Saya berdoa semoga saya bisa menjadikan anak lelaki saya "bujang berhati paling lurus" seperti Borno. Amin.
Dari sana, saya langsung ngeceng sengeceng ngecengnnya buku ini, karena sebuah kalimat "bujang berhati paling lurus". Saya seolah terbius oleh kalimat itu dan mungkin tergoda dengan keberadaan "bujang berhati paling lurus" itu. Saya bahkan sempat menulis bio di twitter saya mengenai pencarian "bujang berhati paling lurus" itu, saya mengumbar- umbar kalimat itu pada orang rumah dan sahabat saya tanpa tahu siapa dan bagaimana "bujang berhati paling lurus" itu. Ya, saya belum baca novel ini saat itu hehehe.
Saya menunggu berbulan bulan untuk bisa mendapatkan novel ini. Saya ngeceng ini novel tanpa tahu siapa pengarangnya, mungkin tidak peduli. Ya, ini kebiasaan buruk saya :Dv
Tapi, di hari saya membeli ini novel, saya baru ngeuh kalau ternyata penulisnya ialah Tere Liye. Penulis yang saya kenal melalui novel Hafalan Sholat Delisa, meski saya belum membaca novel itu hoho. Baiklah, cukup sekian untuk latar belakang perjalanan mengenai keberadaan novel ini di tangan saya. Saatnya membahas isi novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Yuhuuuuu~
Novel ini berlatarkan tempat yang jauh dari tempat saya tinggal, yaitu di pulau Kalimantan sana tepatnya di kota Pontianak dan lebih tepatnya lagi di tepian sungai Kapuas. Menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Borno. Seorang anak lelaki yang semenjak kecil selalu ingin tahu dan sering bertanya hal- hal yang tidak terlalu penting. Semisal, dia bertanya mengenai jika kita buang air besar di hulu Kapuas, kira- kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muara sungai? Lalu dia menanyakan ke setiap orang hingga dia bisa menemukan jawabannya. Ya, begitulah Borno. Polos. Hingga di tahun ke 12 dia hidup, dia mesti kehilangan Ayahnya.
Perjalanan hidupnya pun dimulai ketika dia lulus SMA. Untuk seorang sederhana sepertinya, kuliah hanya bisa menjadi angannya saja, meski mimpinya itu tak pernah putus hingga dia menjadi seorang Pengemudi Sepit (sebuah perahu yang biasa dijadikan alat transportasi di sana yang dijalankan menggunakan mesin). Dan justru pengemudi sepit menjadikannya bertemu dengan seseorang. Perempuan. Dalam perjalanan dia sebagai pengemudi sepit, dapat diambil banyak sekali pelajaran berharga mengenai kebersamaan antar penduduk yang mungkin saat ini sudah jarang di temukan di kota besar tempat saya tinggal. Lalu perjuangan, pengorbanan dan tentu saja Cinta. Ya, sebenarnya inti dari novel ini ialah mengajari kita untuk tahu apa itu Cinta. Cinta yang sebenarnya. Cinta Sejati. Dan juga bagaimana seharusnya kita memperjuangkan Cinta itu sendiri.
Selain itu, saya sebagai pembaca dan sebagai perempuan merasakan hal yang luar biasa kepada Borno, "bujang berhati paling lurus". Ya, dia memang bujang seperti itu. Betapa polosnya dia saat bercerita mengenai ketidaksengajaannya memegang tangan seorang perempuan yang dia sukai, lalu dia merasa berdosa. Betapa naifnya dia ketika ingin menanyakan nama perempuan itu tapi begitu berbelit- belit hingga dia terpaksa melucu dan caranya itu malah membuat perempuan itu tersinggung. Tapi selain melakukan hal- hal konyol, Borno dengan keminiman pengetahuan mengenai cinta, banyak melakukan hal yang luar biasa sebagai lelaki. Lelaki yang tidak pantang menyerah.
Intinya, Borno "bujang berhati paling lurus" mampu memikat hati saya sebagai perempuan. Dan saya sebagai perempuan kini sungguh menaruh harap kepada lelaki di luar sana untuk menjadi "bujang berhati paling lurus" seperti Borno.
Novel ini pun mempunyai arti atau pengertian Cinta yang beragam dan luar biasa. Salah satunya ialah: "Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."
Dan tak kalah menakjubkan lagi, novel ini bisa membuat saya jatuh cinta pada kota itu dan berharap suatu saat saya akan bisa ke sana, menaiki sepit dan mengelilingi sungai Kapuas ditemani "bujang berhati paling lurus" hihihi Aamiin Ya Rabbal Alamiiin :)

1 komentar:

  1. entah ada yang baca atau tidak hehe maaf ya ini gatau kenapa si putih2 itu ga bisa ngilang, udah nyoba diedit belasan kali tapi ga rubah rubah fufufu

    BalasHapus