Pertama liat judulnya, kesan pertama: ini
kayaknya ngebahas soal bangsa Cina. Pas liat lebih dekat, terus baca bagian
belakang buku, baca... baca... baca... dan... mata terhenti tepat di akhir
kalimat komentar seorang Ibu mengenai isi buku ini:
Saya berdoa semoga saya bisa menjadikan anak lelaki saya
"bujang berhati paling lurus" seperti Borno. Amin.
Dari sana, saya langsung ngeceng sengeceng ngecengnnya buku ini,
karena sebuah kalimat "bujang berhati paling lurus". Saya seolah
terbius oleh kalimat itu dan mungkin tergoda dengan keberadaan "bujang
berhati paling lurus" itu. Saya bahkan sempat menulis bio di twitter saya
mengenai pencarian "bujang berhati paling lurus" itu, saya mengumbar-
umbar kalimat itu pada orang rumah dan sahabat saya tanpa tahu siapa dan
bagaimana "bujang berhati paling lurus" itu. Ya, saya belum baca
novel ini saat itu hehehe.
Saya menunggu berbulan bulan untuk bisa
mendapatkan novel ini. Saya ngeceng ini novel tanpa tahu siapa pengarangnya,
mungkin tidak peduli. Ya, ini kebiasaan buruk saya :Dv
Tapi, di hari saya membeli ini novel, saya baru ngeuh kalau
ternyata penulisnya ialah Tere Liye. Penulis yang saya kenal melalui novel
Hafalan Sholat Delisa, meski saya belum membaca novel itu hoho. Baiklah, cukup sekian untuk latar belakang perjalanan
mengenai keberadaan novel ini di tangan saya. Saatnya membahas isi novel Kau,
Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Yuhuuuuu~
Novel ini berlatarkan
tempat yang jauh dari tempat saya tinggal, yaitu di pulau Kalimantan sana
tepatnya di kota Pontianak dan lebih tepatnya lagi di tepian sungai Kapuas.
Menceritakan kisah hidup seorang pemuda bernama Borno. Seorang anak lelaki yang
semenjak kecil selalu ingin tahu dan sering bertanya hal- hal yang tidak
terlalu penting. Semisal, dia bertanya mengenai jika kita buang air besar di
hulu Kapuas, kira- kira butuh berapa hari kotoran itu untuk tiba di muara
sungai? Lalu dia menanyakan ke setiap orang hingga dia bisa menemukan
jawabannya. Ya, begitulah Borno. Polos. Hingga di tahun ke 12 dia hidup, dia
mesti kehilangan Ayahnya.
Perjalanan hidupnya pun
dimulai ketika dia lulus SMA. Untuk seorang sederhana sepertinya, kuliah hanya
bisa menjadi angannya saja, meski mimpinya itu tak pernah putus hingga dia
menjadi seorang Pengemudi Sepit (sebuah perahu yang biasa dijadikan alat
transportasi di sana yang dijalankan menggunakan mesin). Dan justru pengemudi
sepit menjadikannya bertemu dengan seseorang. Perempuan. Dalam perjalanan dia
sebagai pengemudi sepit, dapat diambil banyak sekali pelajaran berharga
mengenai kebersamaan antar penduduk yang mungkin saat ini sudah jarang di
temukan di kota besar tempat saya tinggal. Lalu perjuangan, pengorbanan dan
tentu saja Cinta. Ya, sebenarnya inti dari novel ini ialah mengajari kita untuk
tahu apa itu Cinta. Cinta yang sebenarnya. Cinta Sejati. Dan juga bagaimana
seharusnya kita memperjuangkan Cinta itu sendiri.
Selain itu, saya sebagai
pembaca dan sebagai perempuan merasakan hal yang luar biasa kepada Borno,
"bujang berhati paling lurus". Ya, dia memang bujang seperti itu.
Betapa polosnya dia saat bercerita mengenai ketidaksengajaannya memegang tangan
seorang perempuan yang dia sukai, lalu dia merasa berdosa. Betapa naifnya dia
ketika ingin menanyakan nama perempuan itu tapi begitu berbelit- belit hingga
dia terpaksa melucu dan caranya itu malah membuat perempuan itu tersinggung.
Tapi selain melakukan hal- hal konyol, Borno dengan keminiman pengetahuan
mengenai cinta, banyak melakukan hal yang luar biasa sebagai lelaki. Lelaki
yang tidak pantang menyerah.
Intinya, Borno
"bujang berhati paling lurus" mampu memikat hati saya sebagai
perempuan. Dan saya sebagai perempuan kini sungguh menaruh harap kepada lelaki
di luar sana untuk menjadi "bujang berhati paling lurus" seperti
Borno.
Novel ini pun mempunyai
arti atau pengertian Cinta yang beragam dan luar biasa. Salah satunya ialah:
"Cinta itu macam musik yang indah. Bedanya, cinta sejati akan membuatmu
tetap menari meskipun musiknya telah lama berhenti."
Dan tak kalah menakjubkan
lagi, novel ini bisa membuat saya jatuh cinta pada kota itu dan berharap suatu
saat saya akan bisa ke sana, menaiki sepit dan mengelilingi sungai Kapuas
ditemani "bujang berhati paling lurus" hihihi Aamiin Ya Rabbal
Alamiiin :)