Kita ibaratkan saja gadis itu ialah bunga. Bunga apa pun itu,
terserah.
Dan, dimana ada bunga maka di sana ada kumbangnya *okay, mungkin
ini sedikit dangdut-__-
Berawal dari sang bunga yang kian hari kian tumbuh, entah tumbuh
menjadi indah mekar atau malah buruk layu. Yang pasti Tuhan terus menghendakinya
untuk tumbuh berkembang. Lalu? Sang bunga memutuskan untuk menghindari kumbang,
yang mana pun itu, untuk menjadikan sang bunga itu tempat peristirahatan si
kumbang. Ya, sang bunga tidak ingin diganggu oleh kumbang jenis apa pun. Dia
ingin tetap fokus dan fokus terhadap proses perkembangannya sekarang ini, dia
hanya ingin terus menuju matahari dan berusaha tetap berada di cahaya itu.
Perjuangannya pun tidak mudah. Beberapa kumbang ada yang terus
saja memutar mutar mengelilingi sang bunga, bahkan kumbang yang dulu sempat
diberi izin untuk bisa beristirahat di bunga itu, seringkali menghampiri sang
bunga. Namun, tetap saja sang bunga memegang teguh terhadap prinsipnya dari
awal.
Seiring berjalannya waktu, tak ada lagi kumbang yang berani
mendekati sang bunga. Sang bunga pun lega, namun sesekali menemukan kesepian di
sana. Dan di saat seperti itu, selalu ada kumbang yang akan menghiburnya yang
sudah dia anggap sebagai saudaranya sendiri, ya meski mereka berbeda. Dan sang
bunga pun tidak keberatan jika dia berdekatan dengan "KumbangSenior",
begitu sang bunga menyebutnya. KumbangSenior selalu bisa membuat sang bunga senang,
dengan cara apa pun itu. Lalu semuanya menjadi begitu dekat dan... ya, dekat. Sang
bunga selalu membutuhkan KumbangSenior untuk menghiburnya, atau pun hanya untuk
sekedar mendengar ceritanya. Tapi tak ada yang bisa dijelaskan dari keduanya. Semuanya
mengalir. Begitu saja.
Tak lama, sang bunga mulai tertarik pada kumbang yang kadang
melewat di sekitarnya. Usut punya usut, kumbang itu tumbuh dari spesies yang
memiliki garis keturunan dengan sang bunga. Sedikit aneh, memang, namun ini lah
cerita. Sang bunga sedikit ragu untuk menyukai KumbangJauh, ya begitu sang
bunga menyebutnya. Karena tempat menetap kumbang itu jauh, kalau pun sang bunga
bisa melihat, itu hanya sekilas. Cepat sekali. Diam diam sang bunga mengagumi
KembangJauh itu, meski ada “garis” yang membatasi itu semua. KembangJauh selalu
terlihat sempurna di mata sang bunga. Bagaimana pun. Ya, sekilas ada masa depan
yang sang bunga dapati ketika melihat KumbangJauh. Secara tidak sadar,
KembangJauh telah menjadi motivator sang bunga untuk melanjutkan
perkembangannya di luar tamannya, jauh. Menjadi bunga rantau.
Sang bunga, meski berharap pada KumbangJauh, dia hanya bisa mengagumi
diam diam dalam jarak yang ya... jauh. Tapi sang bunga tidak pernah
menunjukannya kepada teman- temannya itu. Kecuali pada sahabatnya sendiri. Sang
bunga selalu menghibur diri dengan guyonan dan ocehan yang membuat suasana
semakin intim. Dan pada dasarnya, sang bunga memang ceria dan sedikit “ekstrim”
jika becanda. Ya, korbannya ialah seekor kumbang, KumbangDiam, dia menyebutnya.
Karena memang kumbang itu begitu kalem dan polos, tapi selalu menjadi sasaran
untuk “digoda” para bunga, mungkin karena KumbangDiam selain membuat penasaran
yaa karena KumbangDiam ialah juara dalam kelas sang bunga. Itu membuat sang
bunga kagum, karena tak seperti kumbang lainnya yang ingin selalu terlihat “lebih”,
KumbangDiam hanya kalem duduk dan memperhatikan. Hasilnya? Dia yang nomor satu.
Sang bunga hampir tiap hari “menggoda” KumbangDiam, lalu reaksinya hanya
sekedar senyum atau anggukan kepala. Itu yang membuat sang gadis semakin
penasaran, lalu tertarik, kemudian mencari tahu. Akhirnya? Semakin kagum,
mungkin. Dan kadang KumbangDiam merespon, lalu membuat sang bunga senyum
merekah. Namun, kadang juga KumbangDiam dengan tak acuhnya tidak peduli dengan
apa yang dilakukan sang bunga. Dan itu membuat sang bunga bingung.
Dan kini, sang bunga merasa isi kepalanya telah dipenuhi ketiga
kumbang itu. Mungkin tak ada yang memikirkan sang bunga dari ketiga kumbang
itu, namun sang bunga selalu dibuat pusing oleh ketiganya. Tentang kejelasan
rasanya, tentang kejelasan kumbangnya, juga tentang kejelasan pilihannya.
KumbangSenior kini berada di jarak paling jauh dengan sang bunga. Bukan
letak, tapi komunikasi. KumbangSenior lama tak mengunjunginya. Dan sedikit demi
sedikit, sang bunga mulai merindukannya. Rindu setiap kata yang terlontar dari
mulut senior itu. Selalu ada kekuatan dari kata yang KumbangSenior ucapkan,
namun kini tak ada lagi. Sang bunga merindukannya juga membutuhkannya.
Lalu, setelah sekian lama KumbangJauh tak terlihat oleh sang
bunga, dan sang bunga mulai bisa melupakannya, hingga suatu ketika KumbangJauh
terlihat lagi dan sang bunga mengira bahwa semuanya akan baik baik saja, karena
semuanya telah berubah. Namun, yang terjadi ialah sang bungan masih merasakan
ada yang kemat kemit di dadanya, di hatinya ketika dia harus melihat KembangJauh
dari jauh tentunya, saat bersama temannya. Entah itu jantan, atau betina. Ada yang
membuat sang bunga kembali memutar video di pikirannya akan masa depan bersama
KumbangJauh itu. Ya, sang bunga menaruh harapan akan masa depan padanya.
Kemudian saat semuanya jauh, KumbangDiam sedikit sedikit mengisi
hari hari sang bunga, dengan cara apa pun itu. Dengan membuat tertawa,
tersenyum, tersipu, terharu bahkan terjatuh. Atau mungkin sampai tergaruk
garuk. Ya, karena sikap KumbangDiam yang amat sangat plin plan, tidak
konsisten, sehingga membuat sang bunga garuk garuk kepala sendiri karena
bingung memastikan apa yang sebenarnya yang ingin dilakukan KumbangDiam. Ya,
KumbangDiam ialah spesies yang paling bisa membuat sang bunga garuk garuk
kepala selain kudu dan ketombe, tentunya.
Dari sana, sang bunga mulai menerka nerka untuk siapa sebenarnya
rasa yang dia miliki dia simpan dan pasti akan dia berikan. Maka, dia sempat
bertanya pada pimpinan yang selalu memberikan nasihat untuk siapa pun dan dalam
soal apa pun. “Pa, saya ingin bertanya. Bagaimana caranya membedakan antara
rasa yang sebenarnya dengan hanya sekedar rasa kagum?” lalu,
sang pemimpin menjawab, “Dari sekian banyak mereka yang mengagumi saya, pengagum terbesar saya ialah istri saya.
Akan ada rasa itu jika kita mengaguminya. Tidak mungkin kita mencintainya jika kita tidak mengaguminya”
Sang bunga pun semakin bingung, dia hanya bisa diam dan menunggu
waktu. Ya, menunggu waktu saja yang akan menjawabnya. Kadang, biarkan mengalir
selalu menjadi kalimat yang sang bunga sukai dalam keadaan seperti ini. Diambang
ketidakpastian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar