Sabtu, 24 Maret 2012

Hujan Kita


Sore itu hujan. Aku sengaja berbagi jaketku dengannya untuk melindungi kepala kami dari air hujan yang mulai deras. Walaupun sebenarnya rintik itu tetap bisa terjatuh membasahi jaketku, dan tentu saja akan sampai pada rambut dan kepala kami. Harusnya kami berteduh, namun ternyata kesukaanku terhadap hujan membuatku dengannya tak berteduh. Selain itu, kami memang harus segera sampai rumah masing­-masing sebelum hari mulai gelap. Riandra Fabrian Pratama namanya. Ya, nama teman SMA-ku juga teman berbagi jaket. Saat itu kami kenal belum cukup lama, mungkin saat MPLS di SMA-ku diadakan. Kami teman sekelas, lalu teman sebangku, kemudian teman cerita, dan mungkin dimulai dari sore itu dia teman istimewa.

Mungkin saat itu, sebagai teman aku tidak bermaksud apa-apa berbagi jaket dengannya. Lagipula Andra tak membawa jaket. Tak seperti sekarang, setiap aku memikirkan sore itu aku hanya bisa tersenyum menertawai betapa mudahnya aku berbagi jaket dengannya, sementara para perempuan di luar sana mendapat jaket dari sang lelaki yang sedang dia pakai dan mengenakannya pada perempuan itu.

Lama kami berjalan, membuat seragam putih abu kami mulai basah. Di tengah perjalanan dia berkata, “kamu tau aja kalau aku lagi sakit, pake ngelindungin aku sama jaket segala lagi” lalu dia tersenyum dan sedikit mengeluarkan tawanya.”laaah, geer amat bang pake nyangka ngelindungin segala. Cuma kasian aja liat anak orang kehujanan, nanti maminya ngambek lagi :p” candaku menjawab perkataannya itu. Sebenarnya, saat itu aku tidak tahu kalau dia sakit.

Rumah demi rumah, jalan demi jalan kami lewati hingga akhirnya sampai pada pertigaan dimana kami harus berpisah. Sebelum saling pamit, aku ingat dia sempat berkata, “hujan yang manis” lagi lagi sambil memberikan senyumnya itu. Saat itu aku memang bodoh, mendengar dia berkata seperti itu yang kulakukan hanya menjulurkan lidahku dan mencoba untuk merasakan rintik hujan yang dia katakan manis. Saat itu pun aku heran, manis dari mananya bang? Bodoh sekali.

Lalu sekarang aku mengerti apa maksudnya. Karena memang setiap hujan jatuh, aku selalu mengingat sore itu. Hujan yang manis. Kenangan yang manis. Senyumnya yang manis. Aku yang manis.(nah loh?)

Setelah sore itu  aku dengan Andra menjadi lebih dekat apalagi jika hujan turun, pasti kuhabiskan waktu menikmati hujan bersamanya. Hingga suatu hari, sebagai gadis remaja biasanya aku tak dapat membohongi perasaanku saat dia bilang tentang satu perasaan yang dia rasakan tentangku, tentang senyumku, tawaku, tangisku, kisahku, hidupku, dan tak lupa tentang “hujan kita” katanya. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil. Tapi dia seolah melihat hal yang luar biasa dari apa yang kulakukan saat itu. Dia kembali tersenyum, senyum terbaik yang kulihat darinya. Hey perempuan di luar sana, jangan ganggu Riandra Fabrian Pratama ya, sekarang dia sudah jadi milik Efira Ananda Mevia hihihi. Kamu tau dra? Itu yang aku katakan dalam hati setelah kau ucapkan kata itu.

Hari berganti hari, hubungan aku dengan dia sudah terjalin satu tahun lebih. Di kelas 2 kelas kami berbeda dan tentu saja di kelas 3 pun berbeda. Ternyata berbagi perasaan itu tak semudah yang aku bayangkan sebelumnya. Namun, lebih tak mudah lagi jika menutupi perasaan itu, bukan? Hubunganku dengannya sudah bukan rahasia lagi, teman seangkatan bahkan adik kelas pun tahu. Itu bukan karena kami selalu nempel jalan kesana kemari berduaan, tapi karena kami adalah sepasang Ketua OSIS dan Wakil Ketua OSIS . Dan hal yang tidak diinginkan dimulai saat kami harus bertugas sebagai Tatib untuk menyambut MPLS siswa kelas 1. Adik kelas baru yang mungkin paling cantik diantara siswa baru menyukai sang Ketua OSIS, Riandra Fabrian Putra. Mengapa aku bisa tahu? Teman Andra temanku juga, bukan?

Suatu hari, aku sempat bertanya tentang hal ini padanya. Siapa yang tak cemas jika ada seorang gadis cantik dan muda(setidaknya beda dua tahun) menyukai kekasihmu? Andra dengan santai menjawab, “kamu itu ya kamu. Kalaupun dia menyukaiku, apakah dia bisa sepertimu? Tidak bisa kan? Yang ada di sini, ya cuma kamu” sambil menyimpan tangannya di dada sebelah kirinya. Aku harap akan selalu begitu dra, aku takut seiring berjalannya waktu aku hilang... di hatimu itu. Aku sedih dra kalau mengingat harapan yang bodoh itu.

Siang itu hujan turun. Aku mencari Andra ke kelasnya, sambil membawa tas dan jaketku yang di simpan di pundak kananku aku berjalan setengah lari tak sabar mengajaknya pulang dan menikmati hujan siang itu. Namun, kuurungkan niatku saat aku sampai di depan kelasnya. Kulihat di sudut kelas ada seorang lelaki yang tak asing bagiku dengan seorang perempuan yang duduk di bangku kelas yang sudah kosong. Ya, dia Andra-ku dengan gadis itu. Entah apa yang sedang mereka lakukan, aku tak mau menjelaskannya. Aku hanya bisa terpaku melihat mereka, ingin rasanya kuhampiri mereka dan mencaci maki mereka. Namun, yang kulakukan hanya diam ,dan tak butuh waktu lama untuk membuat mereka sadar akan kehadiranku. Aku tahu Andra melihatku, namun kuputuskan untuk pergi dari sana sebelum air mataku jatuh.

Aku kira Andra akan mengejarku dan menjelaskan semuanya. Namun, ternyata aku salah. Sakit yang kurasa tak tertahankan lagi. Yang terpikirkan saat itu hanyalah pergi dari tempat itu secepatnya. Aku lari sekuat yang kubisa, menembus hujan yang semakin lama semakin deras. Air di mataku tak terbendung lagi, semuanya tumpah bersama hujan yang jatuh siang itu. Kalau persediaan air di mataku banyak, mungkin yang keluar akan sama dengan rintik hujan yang terjatuh saat itu. “Betapa bodohnya aku”. Hanya itu yang bia kukatakan selama perjalanan menuju rumahku.
Sesampai aku di rumah, yang kucari hanya satu: handphoneku.
Aku melihatmu dengan gadis itu tadi. Entah apa yang kamu lakukan, aku tak mau tau. Terimakasih dra untuk hari-hari yang kita lewati selama ini. Terimakasih untuk senyummu, tawamu, candamu juga sedihmu dan tak lupa Hujan Kita. Aku masih ingat saat kamu bilang Hujan Yang Manis. Saat itu aku tak mengerti, namun seiring berjalannya waktu aku mengerti maksudmu. Terimakasih atas ketulusanmu menemaniku menikmati hujan yang kusuka. Namun, yang kudapat darimu bukan hanya Hujan Yang Manis. Hari ini kamu telah memberiku hujan yang lain, Hujan Yang Pahit. Terimakasih kamu telah menghiasi hujanku dengan Hujan Yang Manis, lalu kamu menghapusnya dengan Hujan Yang Pahit. Ya, Hujan Kita. Cukup sampai di sini, mungkin gadis itu telah bisa menjadiku sehingga ada dia di hatimu, atau mungkin dia tetap menjadi diri sendiri yang bisa membuatnya berada di hatimu. Ah apapun itu, intinya adalah sudah tak ada tempat untukku di hatimu. Begitu pun kamu di hatiku.
To: Riandra Fabrian Pratama-ku
Des,14. 2008 15:37

Sekarang aku heran, mengapa harus sepanjang lebar itu aku sms hanya untuk menyatakan putus? Tenyata memang benar-benar bodoh aku saat itu. Andra membalas sms-ku tak kalah panjang, dia menjelaskan segalanya. Namun, aku tak peduli lagi.

Seiring berjalannya waktu, aku sudah bisa melupakannya terlebih karena UN yang semakin dekat yang membuatku semakin sibuk. Hingga akhirnya aku lulus dan meneruskan kuliah di luar kota. Aku telah lupa soal dia. Benar-benar lupa. Sampai kemarin sore, semua terputar kembali di ingatanku.

Saat itu, aku baru menginjakkan kakiku di tanah kelahiranku yang telah lama tak kutengok. Bunda benar, Bandung sedikit berubah. Aku keluar dari Stasiun Kereta Api Bandung dengan koper yang sedikit membuat ribet. Aku sengaja tak memberitahu bunda bahwa aku akan pulang. Biar itu menjadi kejutan di Hari Ibu tahun ini. Namun, ternyata aku yang dikejutkan oleh keadaan Bandung yang hujan sore itu, sehingga membuatku tertahan di stasiun untuk menunggu hujan reda.

Ya, aku tak seperti dulu yang tergila-gila akan air hujan dan bertindak bodoh menembus hujan meski yang kudapat ialah omelan bunda. Semakin besar aku semakin mengerti untuk tidak melakukaan tindakan bodoh, termasuk sengaja membuat sekujur tubuh basah oleh air hujan.

Aku hanya bisa menunggu sambil duduk di kursi stasiun yang tidak terlalu ramai. Lama aku menunggu, namun tidak ada tanda-tanda hujan mau berhenti. Akhirnya, kuputuskan untuk bergegas meninggalkan tempat itu karna waktu saat itu telah menunjukan pukul 5 sore, dan aku tak mau terlalu malam sampai rumah.

Jaket yang kubawa dari Jogja ada di dalam koperku, maka saat itu kuputuskan untuk sedikit berlari menembus hujan tanpa jaket. Setengah perjalanan menuju taksi-taksi yang berdiam di luar stasiun, seorang lelaki menghampiriku dan membagi payung yang dia pegang . Aku sontak kaget atas kedatangannya. Saat itu langsung kupalingkan wajahku kepada lelaki itu. Aku tak melanjutkan berjalan. Begitu pun dia. Dia tersenyum, masih senyumnya yang dulu. Ya, Riandra Fabrian Pratama. Tak ada yang berubah darinya, masih dengan wajahnya yang teduh, senyumnya yang manis, juga tatapannya yang selalu membuat tulangku terasa terbuat dari busa. Sementara aku, mungkin aku masih sama seperti yang dulu, namun kali ini aku tak membalas senyumnya itu.

“Hai, ra. Kamu tak berubah ya, masih suka hujan.” Aku masih ingat saat dia mengatakan itu setelah dia mengeluarkan senyumnya itu. Tapi aku tak menjawab apa-apa, tak ada kata yang bisa terucap selain menatapnya dengan lekat.

Saat itu tak ada yang terpikirkan olehku selain pergi menjauh darinya sebelum kenangan yang dulu teringat kembali dan membuatku terlihat bodoh di depannya. Aku berlari menjauh darinya dan secepatnya masuk ke dalam taksi yang berhenti paling dekat denganku. Dia tak megejarku. Percuma aku lari, toh dia tidak peduli dengan kepergianku. Lagi lagi begitu, sama seperti dulu dia yang tidak mengejarku sekali pun aku terluka. Sekarang dia tidak mengejarku sekali pun aku rindu.

Di dalam taksi aku melihat dia masih berdiri di sana dengan payung di tangan yang masih sama. Namun, tak seperti sebelumnya dia saat itu ditemani seorang perempuan yang baru saja keluar dari stasiun. Ah, ternyata masih gadis yang sama.

Kamu benar-benar gila dra! Bahkan aku butuh waktu tiga tahun untuk benar-benar bisa melupakanmu, sementara lima menit melihatmu lagi dapat memutar memoriku tentangmu. Lagi dan lagi. Semuanya, tak terkecuali. Sampai hari kemarin berlalu pun aku masih belum bisa melupakan semuanya, bahkan bertambah buruk. Ingatanku tentangmu, senyummu, tawamu, sedihmu, tatapanmu dan juga Hujan Kita yang telah kulupakan pun kini berputar kembali di kepalaku. Terlihat jelas. Jelas sekali. Seperti seminggu yang lalu kita menari di bawah hujan dengan putih abu yang semakin basah, seperti tiga hari yang lalu saat aku harus menangisimu di bawah rintik hujan yang begitu deras.

Dan untukmu, Hujan. Ada apa denganmu? Sepertinya kau suka sekali melihatku dengannya di bawah rintikmu ya? Mengapa harus saat hujan? Aku tahu bagaimana manisnya hujan karena dia. Aku pun tahu bagaimana pahitnya hujan karena dia. Dan kini kau ingin aku merasakan hujan yang bagaimana lagi? Asin? Asam? Atau apa? Oh sepertinya rasanya hambar. Sekarang kamu dengar Hujan, mulai detik ini Efira Ananda Mefia bersumpah tidak akan menyukai hujan lagi! Sekali pun rintikmu itu bisa melindungiku saat aku menangis di bawahmu agar tak ada seorang pun yang tahu, yang biasa aku lakukan. Karena melihatmu selalu mengingatkanku padanya.

Ya, hujan selalu mengingatkanku padamu, dra. Cinta dengan beribu rintik yang terjatuh dari pelupuk ini. Dra, aku memang merindukanmu. Semoga hujan pun mengingatkanmu padaku. Bukan padanya.

Kini, akan aku biarkan hujan yang mulai turun di luar menghapus jejakku bersamamu. Menghapus jejak kita. Menghapus kenangan kita. Karena aku yakin pasti matahari akan kembali bersinar untuk membuat semuanya kering termasuk air mataku dan lukaku...karenamu.










Rabu, 04 Januari 2012
Edya Sawitri

3 komentar:

  1. Balasan
    1. tentu saja bukan. tapi dapat inspirasi dari teman hehe

      Hapus
    2. wahh maaf baru balas..
      tapi bagus kok :D
      pengen bisa nulis seperti itu ^^ hhe

      Hapus