Sore itu hujan. Aku sengaja berbagi jaketku dengannya untuk
melindungi kepala kami dari air hujan yang mulai deras. Walaupun sebenarnya
rintik itu tetap bisa terjatuh membasahi jaketku, dan tentu saja akan sampai
pada rambut dan kepala kami. Harusnya kami berteduh, namun ternyata kesukaanku
terhadap hujan membuatku dengannya tak berteduh. Selain itu, kami memang harus
segera sampai rumah masing-masing sebelum hari mulai gelap. Riandra Fabrian
Pratama namanya. Ya, nama teman SMA-ku juga teman berbagi jaket. Saat itu kami
kenal belum cukup lama, mungkin saat MPLS di SMA-ku diadakan. Kami teman
sekelas, lalu teman sebangku, kemudian teman cerita, dan mungkin dimulai dari
sore itu dia teman istimewa.
Mungkin saat itu, sebagai teman
aku tidak bermaksud apa-apa berbagi jaket dengannya. Lagipula Andra tak membawa
jaket. Tak seperti sekarang, setiap aku memikirkan sore itu aku hanya bisa
tersenyum menertawai betapa mudahnya aku berbagi jaket dengannya, sementara
para perempuan di luar sana mendapat jaket dari sang lelaki yang sedang dia
pakai dan mengenakannya pada perempuan itu.
Lama kami berjalan, membuat
seragam putih abu kami mulai basah. Di tengah perjalanan dia berkata, “kamu tau
aja kalau aku lagi sakit, pake ngelindungin aku sama jaket segala lagi” lalu
dia tersenyum dan sedikit mengeluarkan tawanya.”laaah, geer amat bang pake
nyangka ngelindungin segala. Cuma kasian aja liat anak orang kehujanan, nanti
maminya ngambek lagi :p” candaku menjawab perkataannya itu. Sebenarnya, saat
itu aku tidak tahu kalau dia sakit.
Rumah demi rumah, jalan demi
jalan kami lewati hingga akhirnya sampai pada pertigaan dimana kami harus
berpisah. Sebelum saling pamit, aku ingat dia sempat berkata, “hujan yang manis”
lagi lagi sambil memberikan senyumnya itu. Saat itu aku memang bodoh, mendengar
dia berkata seperti itu yang kulakukan hanya menjulurkan lidahku dan mencoba
untuk merasakan rintik hujan yang dia katakan manis. Saat itu pun aku heran,
manis dari mananya bang? Bodoh sekali.
Lalu sekarang aku mengerti apa
maksudnya. Karena memang setiap hujan jatuh, aku selalu mengingat sore itu.
Hujan yang manis. Kenangan yang manis. Senyumnya yang manis. Aku yang
manis.(nah loh?)
Setelah sore itu aku dengan Andra menjadi lebih dekat apalagi
jika hujan turun, pasti kuhabiskan waktu menikmati hujan bersamanya. Hingga
suatu hari, sebagai gadis remaja biasanya aku tak dapat membohongi perasaanku
saat dia bilang tentang satu perasaan yang dia rasakan tentangku, tentang
senyumku, tawaku, tangisku, kisahku, hidupku, dan tak lupa tentang “hujan kita”
katanya. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk kecil. Tapi dia seolah melihat
hal yang luar biasa dari apa yang kulakukan saat itu. Dia kembali tersenyum,
senyum terbaik yang kulihat darinya. Hey
perempuan di luar sana, jangan ganggu Riandra Fabrian Pratama ya, sekarang dia
sudah jadi milik Efira Ananda Mevia hihihi. Kamu tau dra? Itu yang aku
katakan dalam hati setelah kau ucapkan kata itu.
Hari berganti hari, hubungan aku
dengan dia sudah terjalin satu tahun lebih. Di kelas 2 kelas kami berbeda dan
tentu saja di kelas 3 pun berbeda. Ternyata berbagi perasaan itu tak semudah
yang aku bayangkan sebelumnya. Namun, lebih tak mudah lagi jika menutupi
perasaan itu, bukan? Hubunganku dengannya sudah bukan rahasia lagi, teman
seangkatan bahkan adik kelas pun tahu. Itu bukan karena kami selalu nempel
jalan kesana kemari berduaan, tapi karena kami adalah sepasang Ketua OSIS dan
Wakil Ketua OSIS . Dan hal yang tidak diinginkan dimulai saat kami harus
bertugas sebagai Tatib untuk menyambut MPLS siswa kelas 1. Adik kelas baru yang
mungkin paling cantik diantara siswa baru menyukai sang Ketua OSIS, Riandra
Fabrian Putra. Mengapa aku bisa tahu? Teman Andra temanku juga, bukan?
Suatu hari, aku sempat bertanya
tentang hal ini padanya. Siapa yang tak cemas jika ada seorang gadis cantik dan
muda(setidaknya beda dua tahun) menyukai kekasihmu? Andra dengan santai
menjawab, “kamu itu ya kamu. Kalaupun dia menyukaiku, apakah dia bisa
sepertimu? Tidak bisa kan? Yang ada di sini, ya cuma kamu” sambil menyimpan
tangannya di dada sebelah kirinya. Aku
harap akan selalu begitu dra, aku takut seiring berjalannya waktu aku hilang...
di hatimu itu. Aku sedih dra kalau mengingat harapan yang bodoh itu.
Siang itu hujan turun. Aku
mencari Andra ke kelasnya, sambil membawa tas dan jaketku yang di simpan di
pundak kananku aku berjalan setengah lari tak sabar mengajaknya pulang dan
menikmati hujan siang itu. Namun, kuurungkan niatku saat aku sampai di depan
kelasnya. Kulihat di sudut kelas ada seorang lelaki yang tak asing bagiku
dengan seorang perempuan yang duduk di bangku kelas yang sudah kosong. Ya, dia
Andra-ku dengan gadis itu. Entah apa yang sedang mereka lakukan, aku tak mau
menjelaskannya. Aku hanya bisa terpaku melihat mereka, ingin rasanya kuhampiri mereka
dan mencaci maki mereka. Namun, yang kulakukan hanya diam ,dan tak butuh waktu
lama untuk membuat mereka sadar akan kehadiranku. Aku tahu Andra melihatku,
namun kuputuskan untuk pergi dari sana sebelum air mataku jatuh.
Aku kira Andra akan mengejarku dan
menjelaskan semuanya. Namun, ternyata aku salah. Sakit yang kurasa tak
tertahankan lagi. Yang terpikirkan saat itu hanyalah pergi dari tempat itu secepatnya.
Aku lari sekuat yang kubisa, menembus hujan yang semakin lama semakin deras.
Air di mataku tak terbendung lagi, semuanya tumpah bersama hujan yang jatuh
siang itu. Kalau persediaan air di mataku banyak, mungkin yang keluar akan sama
dengan rintik hujan yang terjatuh saat itu. “Betapa bodohnya aku”. Hanya itu
yang bia kukatakan selama perjalanan menuju rumahku.
Sesampai aku di rumah, yang
kucari hanya satu: handphoneku.
Aku melihatmu dengan gadis itu tadi. Entah apa yang kamu lakukan,
aku tak mau tau. Terimakasih dra untuk hari-hari yang kita lewati selama ini.
Terimakasih untuk senyummu, tawamu, candamu juga sedihmu dan tak lupa Hujan
Kita. Aku masih ingat saat kamu bilang Hujan Yang Manis. Saat itu aku tak
mengerti, namun seiring berjalannya waktu aku mengerti maksudmu. Terimakasih
atas ketulusanmu menemaniku menikmati hujan yang kusuka. Namun, yang kudapat
darimu bukan hanya Hujan Yang Manis. Hari ini kamu telah memberiku
hujan yang lain, Hujan Yang Pahit. Terimakasih kamu telah menghiasi hujanku
dengan Hujan Yang Manis, lalu kamu menghapusnya dengan Hujan Yang Pahit. Ya,
Hujan Kita. Cukup sampai di sini, mungkin gadis itu telah bisa menjadiku
sehingga ada dia di hatimu, atau mungkin dia tetap menjadi diri sendiri yang
bisa membuatnya berada di hatimu. Ah apapun itu, intinya adalah sudah tak ada
tempat untukku di hatimu. Begitu pun kamu di hatiku.
To: Riandra Fabrian Pratama-ku
Des,14. 2008 15:37
Sekarang aku heran, mengapa harus
sepanjang lebar itu aku sms hanya untuk menyatakan putus? Tenyata memang
benar-benar bodoh aku saat itu. Andra membalas sms-ku tak kalah panjang, dia
menjelaskan segalanya. Namun, aku tak peduli lagi.
Seiring berjalannya waktu, aku sudah
bisa melupakannya terlebih karena UN yang semakin dekat yang membuatku semakin
sibuk. Hingga akhirnya aku lulus dan meneruskan kuliah di luar kota. Aku telah
lupa soal dia. Benar-benar lupa. Sampai kemarin sore, semua terputar kembali di
ingatanku.
Saat itu, aku baru menginjakkan kakiku
di tanah kelahiranku yang telah lama tak kutengok. Bunda benar, Bandung sedikit
berubah. Aku keluar dari Stasiun Kereta Api Bandung dengan koper yang sedikit
membuat ribet. Aku sengaja tak memberitahu bunda bahwa aku akan pulang. Biar
itu menjadi kejutan di Hari Ibu tahun ini. Namun, ternyata aku yang dikejutkan oleh
keadaan Bandung yang hujan sore itu, sehingga membuatku tertahan di stasiun
untuk menunggu hujan reda.
Ya, aku tak seperti dulu yang
tergila-gila akan air hujan dan bertindak bodoh menembus hujan meski yang
kudapat ialah omelan bunda. Semakin besar aku semakin mengerti untuk tidak
melakukaan tindakan bodoh, termasuk sengaja membuat sekujur tubuh basah oleh
air hujan.
Aku hanya bisa menunggu sambil duduk
di kursi stasiun yang tidak terlalu ramai. Lama aku menunggu, namun tidak ada
tanda-tanda hujan mau berhenti. Akhirnya, kuputuskan untuk bergegas
meninggalkan tempat itu karna waktu saat itu telah menunjukan pukul 5 sore, dan
aku tak mau terlalu malam sampai rumah.
Jaket yang kubawa dari Jogja ada di
dalam koperku, maka saat itu kuputuskan untuk sedikit berlari menembus hujan
tanpa jaket. Setengah perjalanan menuju taksi-taksi yang berdiam di luar
stasiun, seorang lelaki menghampiriku dan membagi payung yang dia pegang . Aku
sontak kaget atas kedatangannya. Saat itu langsung kupalingkan wajahku kepada
lelaki itu. Aku tak melanjutkan berjalan. Begitu pun dia. Dia tersenyum, masih
senyumnya yang dulu. Ya, Riandra Fabrian Pratama. Tak ada yang berubah darinya,
masih dengan wajahnya yang teduh, senyumnya yang manis, juga tatapannya yang
selalu membuat tulangku terasa terbuat dari busa. Sementara aku, mungkin aku
masih sama seperti yang dulu, namun kali ini aku tak membalas senyumnya itu.
“Hai, ra. Kamu tak berubah ya, masih
suka hujan.” Aku masih ingat saat dia mengatakan itu setelah dia mengeluarkan
senyumnya itu. Tapi aku tak menjawab apa-apa, tak ada kata yang bisa terucap
selain menatapnya dengan lekat.
Saat itu tak ada yang terpikirkan
olehku selain pergi menjauh darinya sebelum kenangan yang dulu teringat kembali
dan membuatku terlihat bodoh di depannya. Aku berlari menjauh darinya dan
secepatnya masuk ke dalam taksi yang berhenti paling dekat denganku. Dia tak
megejarku. Percuma aku lari, toh dia tidak peduli dengan kepergianku. Lagi lagi
begitu, sama seperti dulu dia yang tidak mengejarku sekali pun aku terluka. Sekarang
dia tidak mengejarku sekali pun aku rindu.
Di dalam taksi aku melihat dia masih
berdiri di sana dengan payung di tangan yang masih sama. Namun, tak seperti
sebelumnya dia saat itu ditemani seorang perempuan yang baru saja keluar dari
stasiun. Ah, ternyata masih gadis yang sama.
Kamu benar-benar gila dra! Bahkan aku
butuh waktu tiga tahun untuk benar-benar bisa melupakanmu, sementara lima menit
melihatmu lagi dapat memutar memoriku tentangmu. Lagi dan lagi. Semuanya, tak
terkecuali. Sampai hari kemarin berlalu pun aku masih belum bisa melupakan
semuanya, bahkan bertambah buruk. Ingatanku tentangmu, senyummu, tawamu,
sedihmu, tatapanmu dan juga Hujan Kita yang telah kulupakan pun kini berputar
kembali di kepalaku. Terlihat jelas. Jelas sekali. Seperti seminggu yang lalu
kita menari di bawah hujan dengan putih abu yang semakin basah, seperti tiga
hari yang lalu saat aku harus menangisimu di bawah rintik hujan yang begitu
deras.
Dan untukmu, Hujan. Ada apa denganmu?
Sepertinya kau suka sekali melihatku dengannya di bawah rintikmu ya? Mengapa
harus saat hujan? Aku tahu bagaimana manisnya hujan karena dia. Aku pun tahu
bagaimana pahitnya hujan karena dia. Dan kini kau ingin aku merasakan hujan
yang bagaimana lagi? Asin? Asam? Atau apa? Oh sepertinya rasanya hambar. Sekarang
kamu dengar Hujan, mulai detik ini Efira Ananda Mefia bersumpah tidak akan
menyukai hujan lagi! Sekali pun rintikmu itu bisa melindungiku saat aku
menangis di bawahmu agar tak ada seorang pun yang tahu, yang biasa aku lakukan.
Karena melihatmu selalu mengingatkanku padanya.
Ya, hujan selalu mengingatkanku padamu,
dra. Cinta dengan beribu rintik yang terjatuh dari pelupuk ini. Dra, aku memang
merindukanmu. Semoga hujan pun mengingatkanmu padaku. Bukan padanya.
Kini, akan aku biarkan hujan yang
mulai turun di luar menghapus jejakku bersamamu. Menghapus jejak kita.
Menghapus kenangan kita. Karena aku yakin pasti matahari akan kembali bersinar
untuk membuat semuanya kering termasuk air mataku dan lukaku...karenamu.
Rabu, 04 Januari 2012
Edya Sawitri
kisah nyatakah?
BalasHapustentu saja bukan. tapi dapat inspirasi dari teman hehe
Hapuswahh maaf baru balas..
Hapustapi bagus kok :D
pengen bisa nulis seperti itu ^^ hhe