geleng kepala
"artinya senyumanmu itu akan berkurang."
deg. saya setuju, setuju sekali. sekali lagi saya amat sangat setuju dengan kalimat tersebut.
sebagai seorang perempuan di ujung usia 16 tahun, saya sangat merasakan dampak dari "tumbuh dewasa itu"
kamu tahu? menurut saya selain berkurangnya senyum, "tumbuh dewasa" pun mengurangi yang namanya mimpi. entahlah, tapi setidaknya itu yang saya rasakan.
seiring berjalannya waktu, mimpi itu terkikis sedikit demi sedikit. dan mengapa bisa demikian? dapat dipastikan itu semua karena "tumbuh dewasa" memaksa kita untuk realistis. maka mimpi mimpi murni yang dulu dibawa dan dibanggakan teracuni oleh yang namanya kenyataan. tuntutan hidup. tuntutan sekitar. tuntutan kewajiban. keharusan. kemestian. dan... ke re a lis tis an.
maka beginilah saya, "tumbuh dewasa" dengan mimpi yang tinggal seujung kuku dan senyum yang ala kadarnya. atau bahkan sampai... ah entahlah!
semakin hari semakin pesimis. apatis. melankolis. dramatis. najis.. kampret abis! hoek. cuih. pret! saya mulai mengumpat. tak terkendali, maafkan. saya cuma manusia dengan sekumpulan rasa dan kata, jadi tak perlulah kamu percayai tulisan payah saya yang di atas. sesungguhnya itu hanyalah fiksi dengan nonfiksi yang disatukan *abaikan.
tetap hidupkan mimpimu, maka kamu akan merasa hidup. sesungguhnya "tumbuh dewasa" atau tidak itu sama saja. mimpi akan selalu ada di dekatmu. entah dengan mimpi "polos"mu terus abadi atau mimpi yang... ya begitulah! tak perlu dilanjutkan, sudah tak karuan. ha!
sebagai seorang perempuan di ujung usia 16 tahun, saya sangat merasakan dampak dari "tumbuh dewasa itu"
kamu tahu? menurut saya selain berkurangnya senyum, "tumbuh dewasa" pun mengurangi yang namanya mimpi. entahlah, tapi setidaknya itu yang saya rasakan.
seiring berjalannya waktu, mimpi itu terkikis sedikit demi sedikit. dan mengapa bisa demikian? dapat dipastikan itu semua karena "tumbuh dewasa" memaksa kita untuk realistis. maka mimpi mimpi murni yang dulu dibawa dan dibanggakan teracuni oleh yang namanya kenyataan. tuntutan hidup. tuntutan sekitar. tuntutan kewajiban. keharusan. kemestian. dan... ke re a lis tis an.
maka beginilah saya, "tumbuh dewasa" dengan mimpi yang tinggal seujung kuku dan senyum yang ala kadarnya. atau bahkan sampai... ah entahlah!
semakin hari semakin pesimis. apatis. melankolis. dramatis. najis.. kampret abis! hoek. cuih. pret! saya mulai mengumpat. tak terkendali, maafkan. saya cuma manusia dengan sekumpulan rasa dan kata, jadi tak perlulah kamu percayai tulisan payah saya yang di atas. sesungguhnya itu hanyalah fiksi dengan nonfiksi yang disatukan *abaikan.
tetap hidupkan mimpimu, maka kamu akan merasa hidup. sesungguhnya "tumbuh dewasa" atau tidak itu sama saja. mimpi akan selalu ada di dekatmu. entah dengan mimpi "polos"mu terus abadi atau mimpi yang... ya begitulah! tak perlu dilanjutkan, sudah tak karuan. ha!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar