V: aku nunggu dia. selalu. tapi dia nggak datang datang.
M: nanti... pasti datang. tunggu saja yang sabar.
V: kapan?
M: pada saatnya tiba. dia pernah cerita, kalau dia boleh penjajakan sama si dia si itu si anu si si siapa pun lah itu, yang penting akhirnya sama kamu. akhirnya di kamu.
V: oh ya? yakin? masa iya?
M: iyaaa, dia sering bilang gitu. amat sering. dan dia serius.
V: hmm aku juga sering mendengarnya, bukan cuma dari kamu. dari teman temannya yang lain juga bilang gitu. separah itukah dia mengumbar?
M: bukan mengumbar, cuma sekedar cerita. apa salahnya?
V: nggak salah, emang. cuma salahnya kalau dia ternyata tidak menepati kalimat yang dia umbar itu, maka dia akan ingkar ke banyak orang.
M: tapi saya yakin dia menepatinya.
V: so tau kamu. kamu bukan Tuhan yang tau gimana ke depannya... untuk mendapati posisi "akhir" itu bukan waktu yang bentar loh. kamu yakin dia bakal balik ke aku?
M: okey, saya emang nggak tau gimana nantinya.. tapi setau saya dia serius. dia bicara soal kalimat itu nggak main main. laki laki kalau bukan janjinya yang dipegang yaa siap siap aja pakai rok.
V: ya iyaaa, itu karena kamu sejenis dia jadi ngebela dia atas nama gender yang menepati janji. preeet banget kamu huh
M: laaah dibilangin susah amat yah..
V: okey okeeey, anggap saja aku percaya sama kalimat gilanya itu.. gimana kalau ternyata selama proses dia penjajakan dengan yang lain, dia menemukan bahwa ada yang lebih pas dibanding aku? atau mungkin aku yang tak sanggup menunggu dan menemukan orang lain? bagaimana?
M: hmm...
V: kamu tak bisa jawab kan? atau kemungkinan buruknya ialah... dia merasa punya hutang janji ituu maka dia balik padaku hanya sekedar menepati tanpa hati? karena waktu berubah dan heey tak jarang kita ikut berubah di dalamnya kan? asal kamu tau, kalimat macam, nanti aku bakal...., aku pasti nanti...., kamu tunggu nanti aku... blablabla ituuu akan menjadi tabungan memori. nanti salah satu dari kita akan menagih dan mending kalau bisa, gimana kalau keburu bobol? akhirnya cuma bisa mengembalikan tanpa makna. duh!
M: *diam*
V: dia dengan mudahnya berucap seperti itu, macam mendahului Tuhan saja. dikira mendapati posisi "akhir" itu mudah? masa iya penjajakan dengan orang lain, lalu dia menghilang lama, dan hari ini muncul mengajak berkomitmen, lalu besoknya sah. suruh jadi sutradara aja sana! apa apa juga perlu prosesssss, bahkan mie instan saja perlu waktu 3 menit hingga matang! aku butuh dia ada sekarang, se ka rang. saat ini. sa at i ni. peduli amat soal nanti, karena kita nggak tau ke depannya gimanaaa toh hidup itu soal hari ini, bukan besok, apalagi kemarin. yang aku tau, sekarang rasa aku ke dia masih amat banyak. banyak sekali. dan aku nggak tau ke depannya, apa masih sama? kenapa tak di sini, di sisi ini, di saat segalanya masih terasa hangat? kenapa? karena toh ini semua soal sekarang, soal saat ini, bukan soal nanti. apalagi soal akhir itu. yah, bukan soal akhir.
M: hhh, sorry....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar